Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 16 Februari 2014

0 komentar
METODE-METODE ILMIAH Oleh: Budiman Abstrak Metode ilmiah adalah upaya-upaya yang dilakukan berdasarkan langkah-langkah dan prosedur ilmiah untuk mengetahui obyek-obyek ilmu sebagaimana adanya. Dalam memperoleh kebenaran, Islam tidak hanya menggunakan rasionalitas, empirisme saja, tetapi juga menghargai dan menggunakan wahyu dan intuisi serta ilham. Metode-metode ilmiah yang dipergunakan antara lain; metode tajrîbi, burhâni, irfâni dan bayâni. Kata-kata Kunci: Metode ilmiah, tajrîbi, burhâni, irfâni dan bayâni. A. Pendahuluan Ilmu pengetahuan akan mendukung manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Kebahagiaan tersebut ditentukan oleh benar tidaknya manusia dalam mencari kebenaran. Kebenaran tersebut bermula ketika manusia mampu membaca-tanda-tanda kekuasaan Allah. Di antara sarana untuk mengenal kebenaran adalah dengan membaca (tersurat maupun tersirat) dan menulis, sehingga manusia akan mempunyai ilmu pengetahuan. Tujuan dari pembacaan terhadap tanda-tanda/ayat-ayat Allah yang tersurat maupun yang tersirat bertujuan agar manusia mendapatkan kebenaran, mendapatkan ilmu pengetahuan. Ketika manusia mendapatkan pengetahuan maka manusia akan mendapatkan kemuliaan, garansi kemuliaan ini hanya bagi manusia yang yakin kepada Allah dan yang sekaligus mempunyai ilmu. Islam memandang ilmu bukan terbatas pada eksperimental, tetapi lebih dari itu ilmu dalam pandangan Islam mengacu kepada aspek sebagai berikut; Pertama, metafisika yang dibawa oleh wahyu yang mengungkap realitas yang Agung, menjawab pertanyaan abadi, yaitu dari mana, ke mana dan bagimana. Dengan menjawab pertanyaan tersebut manusia akan mengetahui landasan berpijak dan memahami akan Tuhannya. Kedua, aspek humaniora dan studi yang berkaitan, yang meliputi pembahasan mengenai kehidupan manusia, hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, ekonomi dan lain sebagainya. Ketiga aspek material, yang termasuk dalam aspek ini adalah alam raya, ilmu yang dibangun berdasarkan observasi, eksperimen, seperti dengan uji coba di laboratorium. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya menggunakan rasionalitas, empirisme saja dalam menemukan kebenaran, tetapi Islam menghargai dan menggunakan wahyu dan intuisi, ilham dalam mencari kebenaran. Makalah ini akan membahas metode-metode ilmiah, antara lain; metode tajrîbi, burhâni, irfâni dan bayâni. B. Pembahasan Dalam kajian pemikiran Islam terdapat beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya, menurut al-Jabiri, model sistem berpikir dalam Islam yakni bayâni, irfâni dan burhâni, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda tentang pengetahuan. Metode ilmiah berhubungan dengan upaya-upaya yang dapat dilakukan berdasarkan langkah-langkah dan prosedur ilmiah untuk mengetahui obyek-obyek ilmu sebagaimana adanya. Metode ilmiah yang dipergunakan untuk mendekati kebenaran, harus disesuaikan dengan sifat dasar, karakter dan status ontologis dari objek-objeknya yang berbeda-beda. Oleh karena itu dalam epistemologi Islam, ditemukan beberapa metode ilmiah. Antara lain, menurut Mulyadhi, yaitu metode bayânî, irfânî, burhânî dan tajrîbî. 1. Metode Bayânî Bayâni adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (naş), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Dengan demikian, sumber pengetahuan bayâni adalah teks (naş), yakni al-Qur`an dan hadis. Karena itulah, epistemologi bayâni menaruh perhatian besar dan teliti pada proses transmisi teks dari generasi ke generasi. Ini penting bagi bayâni, karena sebagai sumber pengetahuan, benar tidaknya transmisi teks menentukan benar salahnya ketentuan hukum yang diambil. Jika transmisi teks bisa di pertanggung jawabkan, berarti teks tersebut benar dan bisa dijadikan dasar hukum. Sebaliknya, jika transmisinya diragukan, maka kebenaran teks tidak bisa dipertanggung jawabkan dan itu berarti ia tidak bisa dijadikan landasan hukum. Karena itu pula, mengapa pada masa tadwîn (kodifikasi), khususnya kodifikasi hadis, para ilmuan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima. Berdasarkan hal tersebut, bahwa bayâni berkaitan dengan teks, maka persoalan pokoknya adalah sekitar lafal makna dan ushûl-furû`. Misalnya, apakah suatu teks dimaknai sesuai konteksnya atau makna aslinya (tauqîfi), bagaimana menganalogikan kata-kata atau istilah yang tidak disinggung dalam teks suci, bagaimana memaknai istilah-istilah khusus dalam al-asmâ’ al-syar`iyah, seperti kata salat, puasa, zakat. Selanjutnya, untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayâni menempuh dua jalan. Pertama, berpegang pada redaksi (lafal) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahw dan sharf. Kedua, berpegang pada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa. Pada jalan yang kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara; a. Berpegang pada tujuan pokok (al-maqâshid al-dlarûriyah) yang mencakup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Caranya dengan menggunakan induksi tematis dan disitulah tempat penalaran rasional. b. Berpegang pada 'illat teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya 'illat suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut ‘jalan 'illat’ (masâlik al-illah) yang terdiri atas tiga hal, (1) 'illat yang telah ditetapkan oleh nas, seperti 'illat tentang kewajiban mengambil 20% harta fa'i (rampasan) untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr; 7). (2) 'illat yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya 'illat menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. (3) al-Sibr wa al-taqsîm (trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan 'illat pada asal (nas), kemudian 'illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa 'illat itu bersifat begitu atau begini. Cara kedua ini, lebih lanjut memunculkan metode qiyâs (analogi) dan istihsân, yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu. c. Berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Misalnya, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kuliah pada mahasiswa, tujuan sekunder memberikan tugas. Adanya tugas akan mendukung pemahaman kuliah yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah istidlâl, yakni mencari dalil dari luar teks; berbeda dengan istimbât yang berarti mencari dalil pada teks. d. Berpegang pada diamnya Syâr'i (Allah dan Rasul saw). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilakukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Misalnya, hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashl fî al-mu`âmalah al-ibâhah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori istishhâb, yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/dalil yang menunjukkan perubahannya. 2. Metode Irfâni Pengetahuan irfâni tidak didasarkan atas teks seperti bayâni, tetapi pada Kasyf (tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Allah swt.). Karena itu, pengetahuan irfâni tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Allah swt. akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian, pengetahuan irfâni setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan. Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak (1) taubat, (2) wara`, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subhât, (3) zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia. (4) faqir, mengosongkan seluruh pikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Allah swt., (5) sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela. (6) tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya. (7) ridha, hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita. Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Allah swt. secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyâhadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihâd), yang dalam kajian Mehdi Yazdi, disebut ‘ilmu huduri’ atau pengetahuan swa objek (self-object-knowledge). Ketiga, pengungkapan, yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfâni bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi, tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan. Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Pertama, diungkapkan dengan cara i`tibâr atau qiyas irfâni. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks. Kedua, diungkapkan lewat syathahât, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdân) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau Ana al-Haqq dari al-Hallaj (w. 913 M). Karena itu, syathahat menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran. 3. Metode Burhânî Berbeda dengan bayâni dan irfâni yang masih berkaitan dengan teks suci, burhâni sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhâni menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayâni menghasilkan pengetahuan lewat analogi furû` kepada yang asal; irfâni menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Allah swt., burhâni menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya. Dengan demikian, sumber pengetahuan burhâni adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera. Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhâni menggunakan aturan silogisme. Mengikuti Aristoteles, penarikan kesimpulan dengan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat, (1) mengetahui latar belakang dari penyusunan premis, (2) adanya konsistensi logis antara alasan dan keismpulan, (3) kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian lain. Al-Farâbi, mempersyaratkan bahwa premis-premis burhâni harus merupakan premis-premis yang benar, primer dan diperlukan. Premis yang benar adalah premis yang memberi keyakinan, menyakinkan. Suatu premis bisa dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat; (1) kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik, (2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain selain darinya, (3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak mungkin sebaliknya. Selain itu, burhâni bisa juga menggunakan sebagian dari jenis-jenis pengetahuan indera, dengan syarat bahwa objek-objek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama (konstan) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada yang menyimpulkan sebaliknya. Derajat di bawah silogisme burhâni adalah ‘silogisme dialektika’, yang banyak dipakai dalam penyusunan konsep teologis. Silogisme dialektik adalah bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam silogisme demonstratif (burhâni). Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini yang secara umum diterima (masyhûrât), tanpa diuji secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan dari silogisme dialektika tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogisme demonstratif (burhâni). Ia berada di bawah pengetahuan demontratif. 4. Metode Tajrîbî Metode tajrîbî disebut juga dengan metode observasi atau eksperimen terhadap objek-objek fisik. Metode ini dapat dipergunakan secara bersama-sama dengan metode demonstratif (burhâni). Sebagaimana pernyataan, ''metode demonstratif menemukan ekspresinya yang paling utama dalam metode eksperimen''. Sedangkan menurut al-Kindi, metode matematika yang lebih mewakili metode demonstratif sebagai metode ilmiah utama. Masih dalam penggabungan metode ilmiah, ibn Haitsam, metode ilmiah yang paling tepat adalah gabungan dari metode eksperimen dan matematika dan menggunakan keduanya dalam penelitian optik. Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa metode observasi atau eksperimen ini berkaitan dengan pengamatan terhadap objek-objek empiris, guna mendapatkan pengetahuan ilmiah. Namun karena untuk mendapatkan pengetahuan yang objektif dari metode observasi dan eksperimen ini ternyata sangat minim (utamanya penggunaan indra penglihatan), maka diperlukanlah alat-alat bantu untuk meminimalisir gagalnya tujuan memperoleh informasi sebagaimana adanya suatu objek empiris. Contoh penggunaan alat bantu ini dapat dilihat dari penggunaan observatorium (penggunaan alat optik/teleskop), untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang benda angkasa. Contoh lainnya, seorang ekspedis muslim abad ke 11 (al-Biruni), bidang geologi dan geografi, berupaya mengukur keliling bumi. Karena sangat mustahil untuk berlayar keliling bumi, maka beliau menggabungkan metode observasi dengan teori trigonometri matematika. Pertama, diasumsikan bahwa bumi ini bulat, lalu observasi dilakukan dengan berdiri di atas gunung dan melihat tempat matahari tenggelam di sebelah Barat. Selanjutnya menggunakan rumus trigonometri (lingkaran, garis lurus, segitiga), dilakukan pula penjumlahan, pembagian dan perkalian sudut. Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi adalah 24.778,5 mil dan berdiameter 7.878 mil. Ternyata di era modern, penghitungan yang dilakukan dengan alat yang sangat canggih bahwa keliling bumi adalah 24.585 mil dan diameter 7.902 mil. Jadi memang ada selisih, namun kontribusi metode yang dilakukan al-Biruni pada zamannya sangat besar. C. Penutup Metode-metode ilmiah sebagaimana pembahasan di atas, mempunyai ‘basis’ dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayâni didasarkan atas teks suci, irfâni pada intuisi sedang burhâni pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayâni, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayâni fiqhiyah yang kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhâni, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya, burhâni tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi di luar pemikiran, seperti soal warna, bau, rasa atau bayangan. Karena itu, Suhrawardi (1154-1192 M) kemudian membuat metode baru yang disebut iluminasi (isyrâqî) yang memadukan metode burhâni yang mengandalkan kekuatan rasio dengan metode irfâni yang mengandalkan kekuatan hati lewat kashaf atau intuisi. Metode ini berusaha menggapai kebenaran yang tidak dicapai rasional. Namun demikian, pada masa berikutnya, metode isyrâqî dirasa masih juga mengandung kelemahan, bahwa pengetahuan iluminatif hanya berputar pada kalangan elite terpelajar, tidak bisa disosialisasikan sampai masyarakat bawah, bahkan tidak jarang justru malah menimbulkan kontroversial. Muncullah metode lain, filsafat transenden (hikmah al-muta`aliyah), yang dicetuskan Mulla Sadra (1571-1640 M) dengan memadukan tiga metode dasar sekaligus; bayâni yang tekstual, burhâni yang rasional dan irfâni yang intuitif. Dengan metode terakhir ini, pengetahuan atau hikmah yang diperoleh tidak hanya yang dihasilkan oleh kekuatan akal tetapi juga lewat pencerahan ruhaniah dan semua itu kemudian disajikan dalam bentuk rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional. Bagi kaum Muta`aliyah, pengetahuan atau hikmah tidak hanya memberikan pencerahan kognisi tetapi juga realisasi; mengubah wujud penerima pencerahan itu sendiri dan merealisasikan pengetahuan yang diperoleh sehingga terjadi transformasi wujud. Semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengan mengikuti syariat, sehingga sebuah pemikiran harus menggunakan metode bayâni dalam sistemnya. Namun demikian, untuk masa mutakhir ini, metode Muta`aliyah mesti juga dipertanyakan. Sebab, persoalan keagamaan tidak hanya berkaitan dengan teks, rasio, ilham dan pengamalannya dalam bentuk praktek-praktek ritual, melainkan juga mencakup kehidupan sosial, politik, sains-sains modern yang empiris dan bahkan teknologi tinggi (high technology). Epistemologi-epistemologi Islam klasik sudah tidak memadai untuk menghadapi kemajuan-kemajuan tersebut. Artinya saat ini diperlukan epistemologi baru dan inilah tantangan bagi calon intelektual muda muslim. DAFTAR PUSTAKA Al-Buthi, Dawâbith al-Mashlahah fî al-Syarî`at al-Islâmiyah. Beirut, Muassasat, tt. Al-Jabîrî, Bunyah al-Aql al-Arabî. Beirut, al-Markaz al-Tsaqâfi al-Arabî, 1991. Al-Jabîri, Isykâliyât al-Fikr al-Arabi al-Mu`âshir. Beirut: Markaz Dirâsah al-Arabiyah, 1989. Al-Qusyairi, al-Risâlah. Beirut: Dâr al-Khair, tt. Al-Syâthibi, al-Muwâfaqat fî Ushûl al-Ahkam, Cet. III. Beirut, Dâr al-Fikir, tt. Bakar, Osman. Hierarki Ilmu, terj. Purwanto. Bandung: Mizan, 1997. ____________. Tauhid dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. James, William. The Verievities of Religious Experience. New York: 1936. Jamil, Rahman, Fathur. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos, 1997. Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan; Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan, 2003. ____________. Nalar Religius, Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia. Jakarta: Erlangga, 2007. Katz, K. Steven. Mysticism and Philosophical Analysis. London: Sheldon Press, 1998. Khalaf, Wahab, Abd. Ilm Ushul Fiqh, terj. Madar Helmi. Bandung: Gema Risalah Pres, 1996. Muthahhari, Murtadha. Menapak Jalan Spiritual, terj. Nasrullah. Bandung: Pustaka Hidayah, 1997. ____________. Tema-Tema Filsafat Islam. Bandungz; Mizan, 1993. Nashr, Husein. Tasawuf Dulu dan Sekarang, terj. Abd Hadi. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994. Rusyd, Ibn. Fashl al-Maqâl Fîmâ Bain al-Hikmah wa al-Syarîah min al-Ittishâl, edit. M. Imârah, Mesir: Dâr al-Ma`arif, tt. Usman, Iskandar. Istihsân dan Pembaharuan Hukum Islam. Jakarta: Rajawali, 1994. Yazdi, Hairi Mehdi. Ilmu Hudhuri, terj. Ahsin Muhamd. Bandung: Mizan, 1994. Rahmat, Jalaluddin. Hikmah Muta’aliyah Filsafat Pasca Ibn Rushd, Jurnal Al-Hikmah. Bandung: Edisi 10, September 1993.
[read more..]

BIG BANG DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN

0 komentar
BIG BANG DALAM PERSPEKTIF ALQURAN PENDAHULUAN Eksistensi alam semesta tidak berawal, sebagaimana anggapan teori evolusi yang berdasarkan pada paham materialisme, telah ditolak oleh adanya temuan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah ledakan besar (peristiwa yang disebut "Big Bang") yang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Big Bang menunjukkan bahwa adanya seluruh materi fisik di alam semesta ini berawal dari ketiadaan (diciptakan), pada masing-masing tahap penciptaan, alam semesta terbentuk melalui penciptaan yang terkendali, hal ini dapat dilihat dari adanya keteraturan yang sangat sempurna setelah Big Bang. Kenyataan tersebut ditanggapi profesor astronomi Amerika, George Greenstein, katanya: Setelah mengkaji semua bukti, terus-menerus muncul pemikiran bahwa suatu kekuatan (kekuatan supranatural) pasti terlibat di dalamnya. Dengan munculnya teori Big Bang, hipotesis materialistis yang menyatakan bahwa kehidupan dapat dijelaskan hanya dari interaksi materi, juga gugur menghadapi temuan-temuan ilmu pengetahuan ini. Khususnya, asal usul informasi genetis yang menentukan semua makhluk hidup, sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan material murni. Fakta ini diakui salah seorang pembela teori evolusi terkemuka, Williams, sebagai berikut: Para ahli biologi evolusionis tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang tidak dapat dibandingkan; bidang informasi dan bidang materi… gen adalah paket informasi, bukan sebuah materi… Pemisah ini menjadikan materi dan informasi dua bidang berbeda, dan karenanya harus dibahas secara terpisah dalam bidang masing-masing. Pendapat tersebut dapat dijadikan dasar adanya pengaturan oleh ''Supramaterial'' yang menciptakan informasi genetis. Sebab tidak mungkin materi menghasilkan informasi di dalam dirinya. Sehubungan dengan hal ini Gitt, mengatakan: Pengalaman menunjukkan bahwa diperlukan suatu pemikiran yang bebas menjalankan kehendak, kesadaran dan kreativitasnya sendiri. Tidak mungkin ada hukum alam, proses atau urutan kejadian yang menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya di dalam materi. Seluruh fakta ilmiah ini menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh makhluk hidup diciptakan oleh Allah. Makalah ini akan membahas teori Big Bang menurut pandangan Alquran. Pembahasan ini dimulai dari pendefinisian, deskripsi teori Big Bang tentang penciptaan alam semesta dan analisis terhadap ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta serta penafsiran tematik terhadap ayat Alquran tentang teori Big Bang. PEMBAHASAN Realitas penciptaan berdasarkan pandangan filosofis “materialisme” yang beranggapan hanya materi yang ada, dan begitulah adanya sepanjang waktu yang tak terbatas. Dari pendirian itu, diklaim bahwa alam semesta juga “selalu” ada dan tidak diciptakan. Sebagai tambahan bagi klaim mereka; bahwa alam semesta ada dalam waktu yang tidak terbatas, penganut materialisme juga mengemukakan bahwa tidak ada tujuan atau sasaran di dalam alam semesta. Bahwa semua keseimbangan, keselarasan dan keteraturan yang tampak hanyalah peristiwa kebetulan. “Peristiwa kebetulan” juga diajukan ketika muncul pertanyaan tentang bagaimana manusia terjadi. Teori evolusi, dikenal luas sebagai Darwinisme, adalah aplikasi lain materialisme pada dunia alam. Pada abad ke-19, terjadi perubahan penting dalam sikap dunia ilmiah mengenai masalah ini. Materialisme dimasukkan dalam agenda ilmu alam modern oleh berbagai kelompok. Karena keadaan politik dan sosial abad ke-19 membentuk basis kuat bagi materialisme, filsafat tersebut diterima luas dan tersebar ke seluruh dunia ilmiah. Akan tetapi, temuan sains modern secara tak terbantahkan menunjukkan betapa kelirunya pernyataan materialisme. Anggapan bahwa keberadaan alam semesta tidak berawal, telah dipupus habis oleh temuan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah ledakan besar (peristiwa yang disebut "Big Bang") yang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Teori ini menunjukkan bahwa semua materi fisik di alam semesta muncul dari ketiadaan; dengan kata lain, diciptakan. Filsuf ateis pembela utama materialisme, Anthony Flew, mengakui bahwa ateis Stratonisian, dipermalukan oleh konsensus kosmologis saat ini (Big Bang). Tampaknya para ahli kosmologi telah memberikan suatu bukti ilmiah, bahwa jagat raya memiliki permulaan. Teori Big Bang juga menunjukkan bahwa pada masing-masing tahap, alam semesta terbentuk melalui penciptaan yang terkendali. Ini jelas dibuktikan oleh keteraturan yang muncul setelah Big Bang, yang terlalu sempurna jika terbentuk dari sebuah ledakan tak terkendali. Paul Davies, menjelaskan bahwa sulit menolak kesan bahwa struktur alam semesta sekarang ini, yang tampaknya begitu sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil dalam angka, telah dipikirkan dengan cermat. Kesesuaian menakjubkan nilai-nilai numerik yang menjadi dasar konstanta-konstanta di alam, tetap merupakan bukti kuat suatu desain kosmik. Kenyataan yang sama membuat profesor astronomi Amerika, George Greenstein, mengatakan: Setelah mengkaji semua bukti, terus-menerus muncul pemikiran bahwa suatu kekuatan (atau kekuatan) supranatural pasti terlibat di dalamnya. Dengan demikian, hipotesis materialistis yang menyatakan bahwa kehidupan dapat dijelaskan hanya dari interaksi materi, juga gugur menghadapi temuan-temuan ilmu pengetahuan dewasa ini. Khususnya, asal usul informasi genetis yang menentukan semua makhluk hidup, sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan material murni. Fakta ini diakui salah seorang pembela teori evolusi, George C. Williams, menurutnya; para ahli biologi evolusionis tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang tidak dapat dibandingkan; antara bidang informasi dengan bidang materi. Gen adalah paket informasi, bukan sebuah materi. Pemisah ini menjadikan materi dan informasi dua bidang berbeda, dan karenanya harus dibahas secara terpisah dalam bidang masing-masing. Situasi ini merupakan bukti keberadaan kebijakan supramaterial yang menciptakan informasi genetis. Tidak mungkin materi menghasilkan informasi di dalam dirinya. Direktur Institut Fisika dan Teknologi Federal Jerman, Profesor Werner Gitt, mengatakan: Seluruh pengalaman menunjukkan bahwa diperlukan sebuah pemikiran yang bebas menjalankan kehendak, kesadaran dan kreativitasnya sendiri. Tak mungkin ada hukum alam, proses atau urutan kejadian yang menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya di dalam materi. Seluruh fakta ilmiah ini menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh makhluk hidup diciptakan oleh ''Sang Pencipta'' yang memiliki kekuatan dan pengetahuan, yakni Allah. Sedangkan materialisme, seperti diungkapkan seorang filsuf terkenal abad ini, Arthur Koestler: "Tidak dapat lagi dinyatakan sebagai filsafat ilmiah". Pandangan di atas, dikemukakan dengan berani dan dibela dengan gigih oleh materialis abad ke-19, yang tentu saja tidak punya jalan lain kecuali bergantung kepada pengetahuan ilmiah zaman mereka, yang terbatas dan tidak canggih. Pendapat tersebut telah dibantah sepenuhnya dengan penemuan-penemuan sains abad ke-20. Yang gugur pertama kali adalah pendapat bahwa alam semesta sudah ada sejak waktu yang tak terbatas. Sejak tahun 1920-an, telah muncul bukti tegas bahwa pendapat ini tidak mungkin benar. Para ilmuwan saat ini merasa pasti bahwa jagat raya tercipta dari ketiadaan, sebagai hasil suatu ledakan besar yang tak terbayangkan, yang dikenal sebagai “Dentuman Besar (Big Bang)”. Dengan kata lain, alam semesta terbentuk, atau tepatnya, diciptakan oleh Allah. Abad ke-20 juga menyaksikan kehancuran klaim materialis yang kedua; bahwa segala sesuatu di jagat raya adalah hasil dari kebetulan dan bukan rancangan. Riset yang diadakan sejak tahun 1960-an dengan konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik alam semesta umumnya dan bumi khususnya dirancang dengan rumit untuk memungkinkan kehidupan. Ketika penelitian ini diperdalam, ditemukan bahwa setiap hukum fisika, kimia, dan biologi, setiap gaya-gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetik dan setiap detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta sudah diatur dengan tepat sehingga manusia dapat hidup. Ilmuwan masa kini menyebut desain luar biasa ini “prinsip antropis”. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap detail alam semesta telah dirancang dengan cermat untuk memungkinkan manusia hidup. Dengan demikian, filsafat yang disebut materialisme telah ditolak oleh sain modern. Dari posisinya sebagai pandangan ilmiah yang dominan pada abad ke-19, materialisme telah jatuh menjadi cerita fiksi pada abad ke-20. Ilmuan yang merumuskan teori Big Bang adalah Lemaitre (1927). Menurut Lemaitre, yang didasarkan atas persamaan-persamaan medan Einstein, harus pernah ada kondisi entropy minimum yang memungkinkan kondisi maksimum suatu materi untuk mengorganisir keadaan sistemnya. Ia juga menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan dan bahwa alam semesta mengembang sebagai akibat dari sesuatu yang telah memicunya. Dia juga menyatakan bahwa tingkat radiasi (rate of radiation) dapat digunakan sebagai ukuran akibat (aftermath) dari “sesuatu” itu. Pada tahun 1929, Edwin Hubble (astronomer Amerika di Observatorium Mount Wilson California), ketika mengamati sejumlah bintang dengan teleskop, menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spektrum dan pergeseran itu berkaitan langsung dengan jarak bintang-bintang dari bumi. Penemuan ini mengguncangkan landasan model alam semesta yang dipercaya saat itu. Menurut aturan fisika yang diketahui sebelumnya, spektrum berkas cahaya yang mendekati titik observasi cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas cahaya yang menjauhi titik observasi cenderung ke arah merah. Pengamatan Hubble, menunjukkan bahwa menurut hukum ini, benda-benda luar angkasa semakin menjauh dari bumi. Selanjutnya Hubble, membuat penemuan penting lagi; bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi; tetapi juga menjauhi satu sama lain. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa di alam semesta ini semua planet saling menjauh dan alam semesta dengan konstan “mengembang”. Hubble, menemukan bukti pengamatan untuk sesuatu yang telah “diprediksi” sebelumnya oleh Lamaitre dan sebelumnya pada tahun 1915, Albert Einstein, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak statis dengan perhitungan-perhitungan berdasarkan teori relativitas yang ditemukannya. Penemuan Hubble, bahwa alam semesta mengembang. Alasannya, jika alam semesta semakin besar sejalan dengan waktu, mundur ke masa lalu berarti alam semesta semakin kecil dan jika seseorang bisa mundur cukup jauh, segala sesuatunya akan mengerut dan bertemu pada satu titik. Kesimpulan yang harus diturunkan dari model ini adalah bahwa pada suatu saat, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai “volume nol” karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita muncul dari hasil ledakan massa yang mempunyai volume nol ini. Ledakan ini mendapat sebutan “Dentuman Besar”. Dapat dipahami bahwa 'Dentuman Besar' mengatakan bahwa sesuatu mempunyai volume nol adalah sama saja dengan mengatakan sesuatu itu “tidak ada”. Seluruh alam semesta diciptakan dari “ketidakadaan” ini. Dan lebih jauh, alam semesta mempunyai permulaan, berlawanan dengan pendapat materialisme, yang mengatakan bahwa alam semesta sudah ada selamanya (qadim). Alam yang dimaksudkan dalam pembahasan ini yaitu ''universum'', alam semesta, jagat raya. Dalam bahasa Arab disebut 'alam dan dalam bahasa Inggeris disebut universe. Dalam istilah Alquran disebut dengan langit serta seluruh isinya. Sebagaimana Alquran surat As-Sajadah ayat 4 berikut: الله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش ما لكم من دونه من ولي ولا شفيع أفلا تتذكرون. Artinya: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Kata langit disebutkan dalam bentuk tunggal as-Sama’ dan bentuk jamak as-Samawat, sebanyak 310 kali dengan rincian sebanyak 120 kali bentuk tunggal dan 190 kali bentuk jamak. Alam jagat raya ini disebut dengan as-Sama’ dan al-Ardh. Pengertian as-Sama’ menurut istilah yaitu: كل ما يعلو على غيره أو كل ما على ك, فسقف البيت يقال له سما. Artinya: Segala sesuatu yang di atas lainya atau apa yang di bagian atasmu, atap rumah disebut dengan langit. Sedangkan pengertian al-Ardh , yaitu: كل ما يقع أسفل غير السماء. Artinya: Segala sesuatu yang berada di bawah langit. Informasi yang dapat ditemukan dalam Alquran bahwa penciptaan alam semesta menggunakan kata; khalaqa, bada’a, fathara . Dalam penyebutan penciptaan tersebut tidak disebutkan tentang penciptaan secara terperinci dan tidak ditemukan informasi tentang dari apa langit dan bumi (alam semesta) diciptakan. Lain halnya dengan asal penciptaan manusia dan jin. Kata khalaqa ditemukan dalam Alquran sebanyak 261 kali yang terdapat dalam 75 surat, dari 261 kali penyebutan itu sebanyak 252 kali bermakna penciptaan dan 9 kali penyebutan lainnya dalam bentuk kata ikhtilaq (yang diada-adakan/dusta), khalaqa (keuntungan dan khuluq (akhlak). Makna dasar dari perkataan khalaqa adalah al-Taqdir, (menetapkan/ukuran/ketentuan yang pasti). Sebagaimana Alquran surat at-Thalaq ayat 12 berikut: الله الذي خلق سبع سماوات ومن الأرض مثلهن... Artinya: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Menurut al-Raghib, kata khalaqa jika digunakan untuk alam semesta berarti penciptaan sesuatu dari materi yang sudah ada, tidak ditemukan dalam Alquran. Dengan demikian Allah swt telah menetapkan dan menentukan penciptaan alam semesta tampa asal materi tertentu. Kata bada’a diartikan dengan penciptaan sesuatu yang baru sama sekali dan jika kata ini dipergunakan untuk penciptaan oleh Allah, berarti menciptakan sesuatu tampa materi awal, alat, waktu dan tempat. Kata bada’a ditemukan dalam Alquran sebanyak empat kali dengan derivasi (bada’a, ibtada’a, badi’u), dua ayat dalam lingkup pembicaraan langit dan bumi. Sebagaimana ditemukan dalam Alquran surat al-An'am ayat 101 berikut: بديع السماوات والأرض ... Artinya: Dia pencipta langit dan bumi. Dengan demikian Allah swt. Menciptakan alam semesta tampa contoh, sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya, tampa asal meteri, tampa alat dan tampa ruang dan waktu. Dalam tafsir Al-Mishbah, dijelaskan bahwa makna kata badi’u, dapat dipahami dalam dua hal, yaitu: Pertama; memulai sesuatu tampa ada contoh sebelumnya. Kedua; keterputusa sesuatu atau keterpunahan/ketumpulannya. Dari makna pertama lahir kata bid’atun yang merupakan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasul saw. Selain itu kata tersebut mengandung arti kekaguman, jadi jika sesuatu tidak disertai dengan kekaguman, maka tidak dinamakan badi’. . Dengan demikian, Allah sebagai pencipta langit dan bumi tanpa persamaan sesuatu dengannya, maka Allah swt. Menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, tampa ada contoh sebelumnya. Menciptakan pertama kali semua makhluk tampa ada makhluk serupa sebelumnya. Ayat di atas juga membantah keyakinan orang musyrik bahwa Allah swt. memiliki anak yang berwujud Malaikat dan Jin. Malaikat tempatnya di langit dan Jin tempatnya di bumi. Jika langit dan bumi diciptakan dari sesuatu yang tiada, maka keduanya baharu, sedangkan Malaikat dan Jin sebagai anak Tuhan haruslah qadim, sebab bagian dari Tuhan dan karena membutuhkan tempat tinggal di langit dan di bumi, maka akan menjadi baharu. Oleh karena itu, harus diyakini bahwa langit dan bumi adalah qadim , agar keyakinan adanya anak Tuhan tetap eksis. Kata fathara, makna dasarnya adalah al-Syakku (pecah belah), sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat al-Infithar ayat 1 berikut: إذا السماء انفطرت. Artinya: Apabila langit terbelah. Menurut Ibn 'Atsir, kata fathara dapat berarti penciptaan sejak dari pertama sekali. Senada dengan pendapat tersebut, Ibn Manzur, memberi makna dengan penciptaan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya dengan model dan bentuk yang memungkinnya dapat melakukan berbagai aktivitas. Dari penjelasan kata khalaqa, bada’a dan fathara, dapat dipahami bahwa ketiganya memiliki makna dasar yang sama yaitu penciptaan, namun terdapat perbedaan pada penekanan makna kandungannya. Kata khalaqa penekanannya pada penciptaan tampa materi, kata bada’a penekanannya pada penciptaan sesuatu yang sama sekali baru dan untuk yang pertama sekali, sedangkan kata fathara penekanannya pada penciptaan asfek pola/model dari awal penciptaan. Kajian kosmologi modern, jika dilihat dari sudut pandang Alquran, ditemukan adanya pemahaman yang singkron. Menurut kosmologi modern, bahwa alam semesta ini (universum) berasal dari satu materi yang padu, kemudian terjadi ledakan yang maha dahsyat (Big Bang) yang melemparkan berbagai materi keluar dari materi awal dan terciptalah alam semesta ini. Sebagaimana ungkapan berikut: Universum lahir dari suatu ledakan maha dahsyat yang berasal dari materi dalam keadaan super-padu dan super-panas, keterpaduan ruang dan materi dapat dipahami jika keduanya berada pada satu titik; singularitas fisis yang merupakan volume yang berisikan seluruh materi, sedangkan pemisahannya adalah terjadinya ledakan dahsyat yang melontarkan materi ke berbagai penjuru dan berkembang dengan cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi. Kejadian ini diperkirakan sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Sebelum ledakan yang maha dahsyah ini, tak ada energi, tak ada materi, tak ada ruang dan waktu. Pembahasan proses penciptaan alam semesta diawali dari Alquran surat al-Anbiya' ayat 30 berikut: أولم ير الذين كفروا أن السماوات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما وجعلنا من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون. Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?. Kata "ratq" diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah "fataqa" satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, dipahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk. Pada ayat di atas disebutkan bahwa langit dan bumi pada awalnya kanata ratqan, kemudian Allah memisahkan keduanya fafataqna huma. Makna ratq dan fatqn, menunjukkan adanya dua benda yakni langit dan bumi (satu langit dan satu bumi), karena pada masa itu masing-masing langit dan bumi adalah satu, kemudian Allah menjadikan dari masing masingnya tujuh, yakni tujuh langit dan tujuh bumi. Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan bumi pada masa itu masih padu kemudian langit pecah dengan turunnya hujan, demikian juga bumi menjadi pecah dengan tumbuhnya tanam ¬tanaman dari dalamnya. Keberadaan ekspansi ini diketahui berdasarkan penelitian sistematis dan pengamatan menggunakan teropong bintang, maka dapat dilihat dimana satu galaksi semakin menjauhi galaksi lainnya, semakin jauh jaraknya, kecepatamya semakin bertambah, seluruh universum berekspansi, seluruh galaksi bergerak saling menjauh dan pada jarak terjauh mendekati kecepatan cahaya. Dalam hal ekspansi ini Alquran menyebutnya dengan perluasan, sebagaimana Alquran surat Az-Zariyat ayat 47 berikut: والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون. Artinya: Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Menurut tim penyusun Tafsir Al-Muntakhab, sebagaimana dikemukakan dalam Tafsir Al-Mishbah, Kata al-Sama’(langit) pada ayat tersebut dimaksudkan dengan segala sesuatu yang ada di atas dan menaungi, maka semua benda langit seperti bintang, tata surya dan galaksi disebut langit. Ayat tersebut juga mengandung arti bahwa meluasnya alam semesta terus berlangsung sepanjang masa, sebagaimana dikenal dengan teori ekspansi (bahwa nebula di luar tempat tinggal manusia semakin menjauh dengan kecepatan yang berbeda, bahkan benda-benda langit dalam satu galaksi pun saling menjauh satu sama lainnya. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa alam semesta berasal dari satu materi yang padu dan perkembangan berikutnya adalah setelah terjadinya ledakan maha dahsyat yang diperkirakan pada masa 15 milyar tahun silam. Pada berbagai ayat dalam Alquran, ditemukan informasi bahwa penciptaan langit dan bumi dalam enam masa fi sittati ayyam, bumi diciptakan fi yaumaini. Untuk ayat yang menjelaskan fi sittati ayyam, dapat dilihat sebagaimana Alquran surat Hud ayat 7 berikut: وهو الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام .... Artinya: Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.... Hanafi Ahmad memahami makna ''hari'' dalam pengertian sehari-hari adalah masa mulai terbenamnya matahari sampai terbenam hari berikutnya, mencakup siang dengan malam. Kata yaum ini juga dipergunakan untuk menunjukkan waktu tertentu yang terkadang waktunya pendek dan terkadang panjang dan dapat pula diartikan dengan naubah (periode) serta al-waqa’ al-hawadits (penciptaan). Alam semesta diciptakan daam enam masa berdasarkan informasi dari Alquran surat Al-A`raf (7):54; Yunus (10):3; Hud (11):7; Al-Furqan (25):59; As-Sajdah (32):4; Qaf (50):38; dan Al-Hadid (57):4. Kata yaum (jamaknya ayyam) yang terdapat di dalam Alquran memiliki makna yang beragam; masa yang abadi dan tidak terhingga panjangnya (Al-Fatihah(1):4), atau 50.000 tahun (Al-Ma`arij(70):4), atau 1000 tahun (As-Sajdah (32):5), atau satu zaman (Ali Imran(3):140), atau satu hari (Al-Baqarah (2):184), atau sekejap mata (Al-Qamar (54):50), atau masa yang lebih singkat dari sekejap mata (An-Nahl (16):77), atau masa yang tidak terhingga singkatnya (Ar-Rahman(55):29). Oleh sebab itu, penyebutan fi sittati ayyam pada penciptaan alam semesta diterjemahkan “dalam enam periode”. Tentunya Allah swt. tidak memerinci periode tersebut secara detail. Alquran hanya memuat garis besarnya saja, sebab Alquran bukan buku fisika atau astronomi, melainkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Periodesasi penciptaan alam semesta yang ditunjukkan Alquran, terdapat dalam Alquran surat al-Fussilat ayat 9-12 sebagai berikut; قل أئنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين. وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين. ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين. فقضاهن سبع سماوات في يومين وأوحى في كل سماء أمرها وزينا السماء الدنيا بمصابيح وحفظا ذلك تقدير العزيز العليم . Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Karena penciptaan langit dan bumi secara bersamaan (ayat 11), maka dua periode penciptaan langit (ayat 12) identik dengan dua periode penciptaan bumi (ayat 9) dan dua periode penciptaan langit dan bumi itu berlangsung sesudah empat periode penciptaan rawasiya (ayat 10), sebab ayat 10 dan ayat 11 dihubungkan oleh kata tsumma (“kemudian, selanjutnya, sesudah itu”). Jadi, enam periode penciptaan alam semesta terdiri atas empat periode penciptaan rawasiya (peneguh) dan dua periode penciptaan materi (langit dan bumi). Kata rawasiya merupakan derivasi dari kata dasar rasaa (triliteral atau tiga huruf dasar ra-sin-alif) yang secara harfiah artinya “menambat, mengikat, meneguhkan”, dan satu akar kata dengan mirsa (jangkar) dan mursa (berlabuh, buang jangkar). Rawasiya berarti “penambat, pengikat, peneguh”. Untuk memahami arti rawasiya, dapat dilihat keterangan Allah swt. dalam Alqran: وجعلنا في الأرض رواسي أن تميد بهم وجعلنا فيها فجاجا سبلا لعلهم يهتدون . Artinya: Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Pada ayat lain Allah swt. berfirman: خلق السماوات بغير عمد ترونها وألقى في الأرض رواسي أن تميد بكم وبث فيها من كل دابة …. Artinya: Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Ketika berputar pada sumbunya sendiri (rotasi) dengan kecepatan 1667 km/jam, bumi beserta planet-planet lainnya berpusing mengelilingi matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam atau 30 km/detik. Matahari bersama-sama seluruh anggota tatasurya berpusing mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti (Milky Way) dengan kecepatan 225 km/detik. Galaksi Bimasakti itu sendiri (terdiri dari 100 miliar matahari) bersama galaksi-galaksi tetangganya berpusing mengelilingi pusat superkluster Virgo. Bumi berputar dengan kecepatan 300 km/detik terhadap pusat Superkluster. Dengan kecepatan yang fantastis ini, kenyataannya penduduk bumi berputar bersama bumi dengan aman sentosa, malahan seolah-olah tidak bergerak. Rawasiya (peneguh), dapat dianggap berfungsi mengikat pada permukaan bumi dan yang menjaga benda-benda langit yang “tanpa tiang” (ghairi `amadin) tetap pada orbit masing-masing. Jika ditujukan kepada dunia mikro, rawasiya yang membuat elektron-elektron tidak terlepas dari atom. Rawasiya yang mengikat proton dan netron dalam inti atom. Sehingga dengan rawasiya seluruh proses di alam semesta menjadi teratur. Para ilmuwan kini memahami bahwa semua proses yang berlangsung di alam semesta ini diatur dan diteguhkan dengan empat macam interaksi (gaya, force), yaitu: Pertama, interaksi gravitasi, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi. Kedua, interaksi elektromagnetik, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berfikir dalam otak manusia. Ketiga, Interaksi Kuat (Strong Interaction), yaitu gaya yang mengikat partikel-partikel (zarrah) proton dan netron yang menyusun inti atom. Keempat, interaksi lemah (weak interaction), yaitu gaya yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, mulai dari proses keradioaktifan (transmutasi inti) sampai kepada perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang sehingga tetap memancarkan cahaya. Dalam kebanyakan tafsir Alquran, kata rawasiya yang secara harfiah berarti “peneguh” sering ditafsirkan “gunung”. Memang benar bahwa salah satu fungsi gunung adalah peneguh, tetapi tidak semua kata rawasiya diterjemahkan “gunung”. Kenyataannya, orang-orang Arab tidak pernah menyebut gunung dengan istilah rawasiya. Rawasiya (peneguh) yang disediakan Allah swt. bagi alam semesta ini tiada lain adalah empat macam interaksi yang mengatur seluruh mekanisme langit dan bumi, yaitu gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya kuat, dan gaya lemah. Penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa keempat macam gaya tersebut merupakan manifestasi dari sebuah “gaya tunggal” yang sama, dan memisah satu sama lain melalui empat tahapan penciptaan. Kata aqwat (plural dari qut) pada ayat ini sering diterjemahkan “makanan”. Padahal arti yang tepat adalah “daya penjaga”, dan hal ini berhubungan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu al-muqit (Maha Penjaga), sebagaimana ayat Alquran berikut: من يشفع شفاعة حسنة يكن له نصيب منها ومن يشفع شفاعة سيئة يكن له كفل منها وكان الله على كل شيء مقيتا . Artinya: Barang siapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pengertian al-yaum dalam konsep penciptaan ini tidak relevan dengan makna hari pada saat sekarang, sebab ketika itu belum ada matahari dan bulan yang peredarannya dijadikan alat ukur atau perhitungan menentukan hari. Oleh sebab itu lebih tepat jika diartikan dengan periode, yakni masa enam periode, yaitu: 1. Era Planck, yakni kurun pertama terciptanya universum, pada masa ini seluruh kosmos yang terdiri dari ruang, materi dan radiasi telah ditentukan interaksinya, sifat serta fungsinya. Sedangkan kandungan materi dan energi dalam alam emesta ditentukan jumlahnya dan suhu kosmos karena ekspansi turun melewati 1000 triliyun derajat. Tepat pada Waktu Nol, dengan perintah Allah “Kun” (jadilah), maka terciptalah ruang dan waktu pun bermula melalui proses Big Bang. Dalam Alquran, Allah selalu memakai kalimat kun fa yakun (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk present tense atau fi`il mudhari`, dan tidak pernah dijumpai kalimat kun fa kana (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk past tense atau fi`il madhi. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan alam ini melalui suatu proses evolusi atau tahap yang berkesinambungan, bahkan sampai sekarang. Sebagaimana ayat Alquran berikut: الحمد لله فاطر السماوات والأرض جاعل الملائكة رسلا أولي أجنحة مثنى وثلاث ورباع يزيد في الخلق ما يشاء إن الله على كل شيء قدير. Artinya: Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Alam semesta masih berwujud energi dengan sebuah gaya tunggal. Berekspansinya alam semesta menyebabkan suhu menjadi turun. Berakhir pada saat 10(-43) detik sesudah waktu nol (alam semesta berdiameter 10(-30) meter dengan kerapatan 10(96) kg/liter dan suhu 10(32) K), yaitu ketika rawasiya gravitasi muncul sebagai gaya tersendiri. 2. Era Hadron, tahap ini berawal ketika suhu kosmos menjadi 100 milyar derajat, kerapatan materi dalam alam semesta adalah adalah empat juta ton tiap liter, bahan penyusun nuklir, yaitu penyusun inti-inti atom telah tertentu jumlahnya. Pada saat 10(-43) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(32) K), tatkala mulai terdapat dua gaya; gravitasi dan gabungan elektromagnetik-lemah-kuat. Oleh karena gravitasi bekerja terhadap sesuatu yang bermassa, maka sebagian energi mengalami transformasi menjadi partikel-partikel mikro (dukhan), sesuai dengan Hukum Einstein: E = m c(2). Quark dan lepton masih belum dapat dibedakan, sebab gaya kuat dan gaya lemah masih identik. 3. Era Lepton, tahap ini dimulai ketika suhu kosmos tinggal 1 milyar derajat dan kerapatan materinya tinggal 20 kg tiap liter dan muatan kelistrikannya telah ditetapkan. Dimulai pada saat 10(-35) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(28) K), tatkala rawasiya gaya kuat merupakan gaya tersendiri. Kini ada tiga gaya di alam semesta; gravitasi, gaya kuat, dan gabungan elektromagnetik-lemah. Alam semesta mengalami inflasi (volume mendadak berekspansi) dan mulailah dikenal partikel-partikel quark yang mengalami interaksi gaya kuat. 4. Era Radiasi, tahap ini dimulai ketika suhu kosmos berada di bawah 100 juta derajat, kerapatan materi tinggal 1/10 kg tiap liter. Pada tahap ini telah dimulai penyusunan inti-inti atom dan ada kemungkinan terjadi pengelompokan¬-pengelompokan materi sebagai akibat adanya ketidakseragaman lokal, yang nantinya berevolusi menjadi galaksi-galaksi. Dimulai pada saat 10(-10) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(15) K), tatkala rawasiya gaya lemah memisah dari rawasiya gaya elektromagnetik. Dan mulailah dikenal partikel-partikel lepton yang mengalami interaksi gaya lemah. Lengkaplah sudah empat macam gaya yang berfungsi sebagai rawasiya (peneguh) bagi semua proses di alam semesta. Alam semesta terus berekspansi sampai suhu “mendingin” hingga 10(13) K. Empat periode penciptaan rawasiya segera disusul oleh dua periode penciptaan atom, yang merupakan partikel dasar dari seluruh materi di langit dan di bumi. 5. Era Materi pertama, tahap ini dimulai ketika atom-atom mulai terbentuk, sehingga elektron bebas, sangat berkurang jumlahnya dalam kosmos, dalam tahap ini cahaya mengisi ruang alam (terjadi ketidakstabilan gravitasi). Dimulai pada saat 10(-6) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(13) K), tatkala quark-quark mampu bergabung untuk membentuk hadron-hadron. Yang disebut “hadron” adalah partikel yang tersusun dari quark-quark. Ada dua jenis hadron, yaitu baryon (tersusun dari tiga butir quark) dan meson (tersusun dari dua butir quark). Kemudian baryon ada dua macam: nukleon (baryon penyusun inti atom) dan hiperon (baryon bukan penyusun inti atom). Lalu nukleon pun ada dua spesies, yaitu proton (tersusun dari dua quark u dan satu quark d) serta netron (tersusun dari satu quark u dan dua quark d). Hiperon-hiperon dan meson-meson merupakan partikel yang tidak stabil dan berumur sangat singkat (berubah menjadi partikel lain dalam waktu kurang dari 10(-7) detik), sehingga hanya ditemukan pada sinar kosmik atau dihasilkan oleh akselerator berenergi tinggi. Itulah sebabnya hadron yang berperan dalam pembentukan inti atom hanyalah nukleon-nukleon (proton dan netron). Dari enam jenis quark (u, d, s, c, b, t), quark u dan quark d merupakan penyusun proton dan netron. 6. Era keruntuhan protogalaksi, ketika kabut materi yang terdiri dari atom-atom mulai mengumpul dan membentuk bintang-bintang dan galaksi¬-galaksi, di antaranya terdapat matahari yang dikelilingi bumi dan planet-planet lain. Dalam peristiwa ini, materi dari protogalaksi (bintang) bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tampa ada gaya yang melawannya. Dimulai pada saat tiga menit sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(10) atau sepuluh miliar K), tatkala proton dan netron mampu bergabung untuk membentuk inti atom. Inti-inti atom yang terbentuk pertama kali adalah hidrogen-1 (satu proton), hidrogen-2 (satu proton dan satu netron), hidrogen-3 (satu proton dan dua netron), helium-3 (dua proton dan satu netron), serta helium-4 (dua proton dan dua netron). Inti-inti atom tersebut bermuatan positif sebab mengandung proton. Mereka siap untuk “menangkap” lepton yang bermuatan negatif dan yang stabil, yaitu elektron-elektron. Lepton-lepton yang lain “tidak memenuhi syarat”; muon dan tauon berumur pendek (paling lama 10(-5) detik), sedangkan netrino tidak bermuatan. Perioda ini berakhir pada saat 380.000 tahun sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(-4) atau sepuluh ribu K), tatkala inti atom mampu bergabung dengan elektron-elektron untuk membentuk atom hidrogen dan atom helium. Dengan demikian selesailah sudah tahap-tahap penciptaan alam semesta. Implikasi pendidikan dari pembahasan Big Bang dalam persfektif Alquran yaitu: 1. Penegasan pentingnya penanaman nilai-nilai keimanan pada Allah swt. 2. Alam semesta adalah ciptaan Allah swt. dengan sangat teratur, sehingga masing-masing dari planet yang diciptakan dalam enam masa tersebut, beredar sesuai dengan setting yang diperintahkan Allah swt., sehingga tidak terjadi benturan antara satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, segala aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan harus dilaksanakan secara teratur pula, agar tercipta kemaslahatan sesama manusia dan makhluk ciptaan Allah swt. Lainnya. 3. Manusia wajib mengimani bahwa Allah swt. maha kuasa atas segala sesuatu. Allah swt. kuasa menciptakan segala sesuatu, sebagaimana telah terjadinya penciptaan alam semesta dari sesuatu yang sebelumnya belum ada contohnya. 4. Penemuan ilmiah tentang teori penciptaan alam semesta dari sesuatu yang tiada dan menjadi ada, sekaligus membenarkan pemahaman bahwasanya alam semesta adalah baharu. PENUTUP Big Bang (dentuman besar) terjadi ketika seluruh materi kosmos ke luar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu sangat tinggi dari volume yang sangat kecil, alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrim. Sangat nyata bahwa semula alam semesta tiada. Pemisahan antara ruang dan materi, terjadi dalam suatu dentuman besar ke seluruh penjuru ruang alam yang berkembang dengan sangat cepat, sehingga tercipta universum yang berekspansi. Hal ini dijelaskan oleh Alquran dengan fafataqna huma (Kami pisahkan antara keduanya). Teori Big Bang menyebutkan bahwa penciptaan alam semesta melalui enam periode, jika dilihat dari sudut pandang Alquran, disebutkan dalam kata fi sittati ayyam (dalam enam masa). Dengan demikian, ada relevansi teori Big Bang tentang terciptanya alam semesta dengan ayat Alquran yang berimplikasikan penciptaan alam semesta. Alam diciptakan Allah dalam enam masa, dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Alquran. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Alquran, enam masa itu ditafsirkan dengan enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang), langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12 - 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Alquran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit. Masa kedua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Alquran disebut penyempurnaan langit. Di dalam Alquran, penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut. Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Alquran, big-bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak semakin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya”. Menurut analisis pakar astronomi, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam. Di dalam Alquran, memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air. Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa keenam dalam proses penciptaan alam. Proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut. Tersedianya air, oksigen, tumbuhan dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya. Di dalam Alquran, hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Allah memancarkan dari mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan manusia dan untuk binatang- binatang ternak”. DAFTAR BACAAN Achmad Baiquni, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: Dhana Bhakti Primayasa, 1997. Ahmad, Hanafi. Tafsir al-'Ilmiy li al-Ayat al-Kauniyyah fi Alquran. Mesir: Dar al-Ma'arif, t.t. 'Atsir, Ibn. Al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa'Atsar. Mesir: Dar al-Fikri, t.t. Baiquni, Achmad. Alquran, Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: PT. Dana Baku Prima Yasa, 1996. ------------., Alquran dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: Dana Bhakti Primayasa, 1997. Baqiy, Muhammad Fu'ad. Mu'jam al-Mufahras li al'faz Alquran al'Karim. Indonesia: Maktabah dahlan, t.t. Djay, A. Rahman. Alquran dalam Fokus Kosmologi Modern. Jakarta: Ulum Alquran, 1990. ------------. Majalah Ulumul Qur'an, no. 3. Tahun 1994. Hanafi, Ahmad. Tafsir al-'Ilmi li al-Ayat al-Kauniyyah. Mesir: Dar al-Ma'arif, t.t. Isfahani, Al-Raghib. Mu'jam Mufradat Alfazh Alquran, Tahqiq Nadim Mar'asyili. Beirut: Dar al-Fikr, 1972. Manzur, Ibn. Lisan al-'Arab. Mesir: Dar al-Mishriyyah, t.t. Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr ibn Farh. Al-Jami' al-Ahkam Alquran. Mesir: Dar wa Mutabi' al-Sa'ab, t.t. Ross. Hugh. The Creator and the Cosmos. Colorado Springs, CO: Nav-Press, 1993. Williams. George C. The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution. New York: Simon & Schuster, 1995. Yahya, Harun. Big Bang, Ledakan yang Menghancurkan Paham Materialisme, www.Google.com. 10 Februari.2008.
[read more..]
0 komentar
Silabus Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI A. Deskripsi Singkat Mata kuliah ini membahas tentang pengembangan kurikulum PAI dan silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) PAI. B. Kompetensi Mendeskripsikan pengembangan kurikulum dan membuat silabus serta RPP PAI C. Inkator 1. Menjelaskan Pengertian Kurikulum 2. Menjelaskan Konsep Kurikulum dalam Pendidikan 3. Menjelaskan Peranan dan Fungsi Kurikulum 4. Menjelaskan Proses Pengembangan Kurikulum PAI 5. Menjelaskan Pendekatan dalam Pengembangan Kurikulum PAI 6. Menjelaskan Perubahan Kurikulum PAI 7. Menjelaskan Prinsip dan Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum 8. Menjelaskan Pendidik dan Pengembangan Kurikulum 9. Menjelaskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 10. Menjelaskan Sillabus dalam kurikulum 11. Menjelaskan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam Kurikulum 12. Menjelaskan Materi dan Pengembangan Kurikulum PAI 13. Membuat Silabus dan RPP D. Materi PERTEMUAN KE- TOPIK KETERANGAN 1 Pengantar Mata Kuliah 2 Pengertian Kurikulum S. Nasution. 1988. Asas-asas kurikulum. Bandung: Jemmars, h. 7-17 dan Oemar Malik. 1990 Pengembangan kurikulum. Bandung: Mandar Maju, h. 4-7. Ornstein, Allan C. Francis P. Hunkins. 1988. Curriculum: foundation, principles and issues. New Jersey: Prentice Hall Englewood Cliffs, h. 6-12 3 Konsep Kurikulum dalam Pendidikan Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, h. 1-16, Zais, Robert S. 1976. Curriculum: principle and foundation. London: Harper & Row, Publishers. H. 6-11 4 Peranan dan Fungsi Kurikulum Oemar Malik. 1990 Pengembangan kurikulum. Bandung: Mandar Maju, h. 4-12 5 Proses Pengembangan Kurikulum S. Nasution.1989. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara, h. 8-13 6 Pendekatan dalam Pengembangan Kurikulum S. Nasution.1989. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara, h. 43-55 7 Perubahan Kurikulum S. Nasution, Asas-asas kurikulum. Bandung: Jemmars, h. 218-246 8 Prinsip dan Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, h. 150-171 9 Mid Semester 10 Pendidik dan Pengembangan Kurikulum Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, h. 191-214 11 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) E. Mulyasa. 2006. Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2006. Jakarta: BSNP. 12 Silabus dalam kurikulum Panduan Pengembangan Silabus PAI. 2006. Jakarta: Diknas. 13 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam Kurikulum Panduan Pengembangan Silabus PAI. 2006. Jakarta: Diknas. 14 Materi dan Kurikulum PAI Supiana. dan M. Karman. 2001. Materi pendidikan agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. 15 Praktek Pembuatan Silabus dan RPP 16 Praktek Pembuatan Silabus dan RPP E. Penilaian Untuk menentukan kelulusan mahasiswa dalam mengikuti kuliah Pengembangan Kurikulum PAI ini, perlu dilakukan evaluasi secara periodik. Evaluasi ini wajib diikuti oleh setiap mahasiswa. Jenis evaluasi dan sebaran persentase untuk setiap jenis evaluasi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Nilai Harian (Tugas/Pekerjaan Rumah/Latihan Harian) : 20 % 2. Ujian Tengah Program : 30 % 3. Ujian Akhir Program : 50 % _________________ + Jumlah : 100% Nilai Harian (Tugas di kelas, PR) : Mahasiswa mengerjakan tugas yang dibebankan, dalam bentuk pembuatan makalah secara berkelompok maupun perorangan. Setiap Tugas/PR akan mendapatkan nilai dengan skala 0 – 100. Tes Tengah Semester Tes Tengah Semester adalah tes yang dilaksanakan berdasarkan jadwal yang tertera dalam silabi. Materi tes ini terdiri atas pelajaran 1 sampai dengan pelajaran sebelum minggu review pada tengah program. Bentuk soal campuran. Sifat tes tengah program ini ialah buku tertutup. Ujian Akhir Semester Ujian Akhir Semester adalah tes yang dilaksanakan berdasarkan jadwal yang tertera dalam silabi. Materi tes ini terdiri atas pelajaran yang diberikan sesudah tes tengah program sampai dengan pelajaran sebelum minggu review pada akhir program. Bentuk soal campuran. Sifat tes akhir program ini ialah buku tertutup/terbuka. F. Media Laptop G. Referensi Mulyasa. 2006. Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Oemar Malik. 1990 Pengembangan kurikulum. Bandung: Mandar Maju. Ornstein, Allan C. dan Francis P. Hunkins. 1988. Curriculum: foundation, principles and issues. New Jersey: Prentice Hall Englewood Cliffs. Panduan Pengembangan Silabus PAI. 2006. Jakarta: Diknas. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2006. Jakarta: BSNP. S. Nasution. 1988. Asas-asas kurikulum. 1988. Bandung: Jemmars S. Nasution.1989. Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bina Aksara. Supiana. M. Karman. 2001. Materi pendidikan agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tyler. Ralp W. 1949. Basic principles of curriculum and instruction. Chicago: The University of Chicago. Zais, Robert S. 1976. Curriculum: principle and foundation. London: Harper & Row, Publishers. Langsa. Februari 2014 Dosen Mata Kuliah Dr. Budiman, MA.
[read more..]

SILABUS FILSAFAT PENDIDIKAN iSLAM

1 komentar
SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Nama Mata Kuliah                  :  Filsafat Pendidikan Islam
SKS                                         :  2 SKS
Dosen                                      :  Dr. Budiman, MA.
Jurusan/Program Studi            :  Tarbiyah/ Pendidikan Agama Islam
Prasyarat                                 :  Filsafat Umum, Ilmu Pendidikan
Waktu Perkuliahan                  : Semester Genap
                                
DESKRIPSI MATA KULIAH
Mata kuliah ini mengkaji berbagai hal yang terkait dengan penelitian, dimulai dari; pengertian filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan perspektif Islam, obyek kajian filsafat pendidikan (kosmologi, ontologi, epistemologi dan aksiologi), analisis filsafat tentang pendidikan, fungsi dan tugas filsafat pendidikan, konsep manusia berkualitas menurut al-Qur’an dan upaya pendidikan, tinjauan filsafat pendidikan Islam terhadap kurikulum, esensi metode dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, perbedaan pendidikan Islam dan pendidikan Barat dari sudut pandang metode keilmuan, pembaharuan Pendidikan Islam.

PENGALAMAN BELAJAR
Pengalaman belajar yang dikembangkan dalam kegiatan perkuliahan ini meliputi kegiatan penalaran berbagai hal tentang Filsafat Pendidikan yang dilakukan melalui kegiatan tatap muka di kelas berupa kegiatan ceramah dan diskusi kelompok, kegiatan terstruktur yang dilakukan melalui resitasi melalui perbaikan makalah individu.

EVALUASI HASIL BELAJAR
Keberhasilan dalam mengikuti mata kuliah ini didasarkan atas penilaian terhadap hasil-hasil pekerjaan mahasiswa, yang memenuhi persyaratan kehadiran minimal 75%, dalam meyelesaikan tugas (bobot 1), ujian tengah semester (bobot 2), dan ujian akhir semester (bobot 2). Skor akhir akan diolah dengan menggunakan Acuan Norma dan dikonversi ke dalam nilai A, B, C, D, E.

URAIAN POKOK BAHASAN SETIAP PERTEMUAN
Pertemuan ke
Tujuan Umum Perkuliahan
Pokok Bahasan/ Sub Pokok Bahasan
1
Mahasiswa memahami Filsafat Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Perspektif Islam
Pengertian filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan perspektif Islam
2
 Mahasiswa memahami Obyek Kajian Filsafat Pendidikan
Obyek kajian filsafat pendidikan (kosmologi, ontologi, epistemologi dan aksiologi)
3
Mahasiswa memahami filsafat
Analisis filsafat tentang pendidikan
4
 Mahasiswa memahami
Fungsi dan tugas filsafat pendidikan
7 dan 8
Mahasiswa memahami konsep manusia berkualitas menurut al-Qur’an dan upaya pendidikan

Konsep manusia berkualitas menurut al-Qur’an dan upaya pendidikan
a.       Konsep manusia dalam al-Qur'an
b.      Fungsi manusia menurut al-Qur'an (terhadap pribadi, masyarakat, alam dan lingkungan, Allah swt).
c.       Manusia berkualitas menurut al-Qur'an (kualitas iman, kualitas intelektual, kualitas amal saleh, kualitas sosial)
d.      Upaya pendidikan bagi pemberdayakan manusia unggul
9 dan 10
Mahasiswa memahami tinjauan filsafat pendidikan Islam terhadap kurikulum
Tinjauan filsafat pendidikan Islam terhadap kurikulum
a.   Pengertian kurikulum pendidikan Islam
b.   Cakupan kurikulum
c.   Asas-Asas kurikulum pendidikan Islam
d.   Kriteria kurikulum pendidikan Islam
11 dan 12

Mahasiswa memahami esensi metode dalam perspektif filsafat pendidikan Islam
Esensi metode dalam perspektif filsafat pendidikan Islam
a.       Metode pendidikan dalam lingkup makro
b.      b. Metode pendidikan dalam lingkup mikro
13 dan 14
Mahasiswa memahami perbedaan pendidikan Islam dan pendidikan Barat dari sudut pandang metode keilmuan
Perbedaan pendidikan Islam dan pendidikan Barat dari sudut pandang metode keilmuan;
a.   Sumber dan metode epistimologi Barat
b.   Sumber dan metode epistimologi Islam
15
Mahasiswa memahami pembaharuan pendidikan Islam
Pembaharuan pendidikan Islam
a.       Tradisi intelektual Islam
b.      Esensi pendidikan Islam
c.       Pendidikan tinggi Islam
Daftar Kepustakaan
Al-Faruqi, Ismail Raji (Ed). Historical Atlas of the Religions of the World, New York: Macmillan co. inc. 1974.
………..., Islamization of Knowledge: the General Principles and the Workplan dalam Knowledge for what?, Islamabad-Fakistan: National Hijra Council, 1986.
………..., Tauhid. Its Implications for Thought and Life. Wynccote USA: The Intenational Institute of Islamic Thought, 1982.
Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoretis dan Prakts, Jakarta; Ciputat Press, 2005.
Arifin, M. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Harold H.Titus, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang. 1984.
Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi, Filsafat dan Pendidikan, Cet, ke 2, Jakarta, al-Husna, 1988.
…………, Asas-Asas Pendidikan Islam, cet ke 2, Jakarta: al-Husna, 1988,
Muhaimin dan Abd. Mudjib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Triguna Karya, 1993.
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet. Ke 4, 2009.
Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2003.
Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Omar Mohammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Redja Mudyaharjo, Filsafat Ilmu Pendidikan, Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
Thoha, Nashruddin, Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya, Jakarta: Mutiara, 1979.
Wafi, Ali Abdul Wahid, Ibn Khaldun Riwayat dan Karyanya, terj. Ahmadie Thoha, Jakarta: Grafiti Press, 1985.

Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed. M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmi, dkk., Bandung: 2003.
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:  Bumi Aksara, 1998.
Sumber-Sumber Sekunder:
Ahmed, Akbar S. Posmodernisme Bahaya dan Harapan Bagi Islam, Bandung: Mizan, 1993.




[read more..]