Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 16 Februari 2014

BIG BANG DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN

BIG BANG DALAM PERSPEKTIF ALQURAN PENDAHULUAN Eksistensi alam semesta tidak berawal, sebagaimana anggapan teori evolusi yang berdasarkan pada paham materialisme, telah ditolak oleh adanya temuan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah ledakan besar (peristiwa yang disebut "Big Bang") yang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Big Bang menunjukkan bahwa adanya seluruh materi fisik di alam semesta ini berawal dari ketiadaan (diciptakan), pada masing-masing tahap penciptaan, alam semesta terbentuk melalui penciptaan yang terkendali, hal ini dapat dilihat dari adanya keteraturan yang sangat sempurna setelah Big Bang. Kenyataan tersebut ditanggapi profesor astronomi Amerika, George Greenstein, katanya: Setelah mengkaji semua bukti, terus-menerus muncul pemikiran bahwa suatu kekuatan (kekuatan supranatural) pasti terlibat di dalamnya. Dengan munculnya teori Big Bang, hipotesis materialistis yang menyatakan bahwa kehidupan dapat dijelaskan hanya dari interaksi materi, juga gugur menghadapi temuan-temuan ilmu pengetahuan ini. Khususnya, asal usul informasi genetis yang menentukan semua makhluk hidup, sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan material murni. Fakta ini diakui salah seorang pembela teori evolusi terkemuka, Williams, sebagai berikut: Para ahli biologi evolusionis tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang tidak dapat dibandingkan; bidang informasi dan bidang materi… gen adalah paket informasi, bukan sebuah materi… Pemisah ini menjadikan materi dan informasi dua bidang berbeda, dan karenanya harus dibahas secara terpisah dalam bidang masing-masing. Pendapat tersebut dapat dijadikan dasar adanya pengaturan oleh ''Supramaterial'' yang menciptakan informasi genetis. Sebab tidak mungkin materi menghasilkan informasi di dalam dirinya. Sehubungan dengan hal ini Gitt, mengatakan: Pengalaman menunjukkan bahwa diperlukan suatu pemikiran yang bebas menjalankan kehendak, kesadaran dan kreativitasnya sendiri. Tidak mungkin ada hukum alam, proses atau urutan kejadian yang menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya di dalam materi. Seluruh fakta ilmiah ini menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh makhluk hidup diciptakan oleh Allah. Makalah ini akan membahas teori Big Bang menurut pandangan Alquran. Pembahasan ini dimulai dari pendefinisian, deskripsi teori Big Bang tentang penciptaan alam semesta dan analisis terhadap ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta serta penafsiran tematik terhadap ayat Alquran tentang teori Big Bang. PEMBAHASAN Realitas penciptaan berdasarkan pandangan filosofis “materialisme” yang beranggapan hanya materi yang ada, dan begitulah adanya sepanjang waktu yang tak terbatas. Dari pendirian itu, diklaim bahwa alam semesta juga “selalu” ada dan tidak diciptakan. Sebagai tambahan bagi klaim mereka; bahwa alam semesta ada dalam waktu yang tidak terbatas, penganut materialisme juga mengemukakan bahwa tidak ada tujuan atau sasaran di dalam alam semesta. Bahwa semua keseimbangan, keselarasan dan keteraturan yang tampak hanyalah peristiwa kebetulan. “Peristiwa kebetulan” juga diajukan ketika muncul pertanyaan tentang bagaimana manusia terjadi. Teori evolusi, dikenal luas sebagai Darwinisme, adalah aplikasi lain materialisme pada dunia alam. Pada abad ke-19, terjadi perubahan penting dalam sikap dunia ilmiah mengenai masalah ini. Materialisme dimasukkan dalam agenda ilmu alam modern oleh berbagai kelompok. Karena keadaan politik dan sosial abad ke-19 membentuk basis kuat bagi materialisme, filsafat tersebut diterima luas dan tersebar ke seluruh dunia ilmiah. Akan tetapi, temuan sains modern secara tak terbantahkan menunjukkan betapa kelirunya pernyataan materialisme. Anggapan bahwa keberadaan alam semesta tidak berawal, telah dipupus habis oleh temuan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah ledakan besar (peristiwa yang disebut "Big Bang") yang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Teori ini menunjukkan bahwa semua materi fisik di alam semesta muncul dari ketiadaan; dengan kata lain, diciptakan. Filsuf ateis pembela utama materialisme, Anthony Flew, mengakui bahwa ateis Stratonisian, dipermalukan oleh konsensus kosmologis saat ini (Big Bang). Tampaknya para ahli kosmologi telah memberikan suatu bukti ilmiah, bahwa jagat raya memiliki permulaan. Teori Big Bang juga menunjukkan bahwa pada masing-masing tahap, alam semesta terbentuk melalui penciptaan yang terkendali. Ini jelas dibuktikan oleh keteraturan yang muncul setelah Big Bang, yang terlalu sempurna jika terbentuk dari sebuah ledakan tak terkendali. Paul Davies, menjelaskan bahwa sulit menolak kesan bahwa struktur alam semesta sekarang ini, yang tampaknya begitu sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil dalam angka, telah dipikirkan dengan cermat. Kesesuaian menakjubkan nilai-nilai numerik yang menjadi dasar konstanta-konstanta di alam, tetap merupakan bukti kuat suatu desain kosmik. Kenyataan yang sama membuat profesor astronomi Amerika, George Greenstein, mengatakan: Setelah mengkaji semua bukti, terus-menerus muncul pemikiran bahwa suatu kekuatan (atau kekuatan) supranatural pasti terlibat di dalamnya. Dengan demikian, hipotesis materialistis yang menyatakan bahwa kehidupan dapat dijelaskan hanya dari interaksi materi, juga gugur menghadapi temuan-temuan ilmu pengetahuan dewasa ini. Khususnya, asal usul informasi genetis yang menentukan semua makhluk hidup, sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan material murni. Fakta ini diakui salah seorang pembela teori evolusi, George C. Williams, menurutnya; para ahli biologi evolusionis tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang tidak dapat dibandingkan; antara bidang informasi dengan bidang materi. Gen adalah paket informasi, bukan sebuah materi. Pemisah ini menjadikan materi dan informasi dua bidang berbeda, dan karenanya harus dibahas secara terpisah dalam bidang masing-masing. Situasi ini merupakan bukti keberadaan kebijakan supramaterial yang menciptakan informasi genetis. Tidak mungkin materi menghasilkan informasi di dalam dirinya. Direktur Institut Fisika dan Teknologi Federal Jerman, Profesor Werner Gitt, mengatakan: Seluruh pengalaman menunjukkan bahwa diperlukan sebuah pemikiran yang bebas menjalankan kehendak, kesadaran dan kreativitasnya sendiri. Tak mungkin ada hukum alam, proses atau urutan kejadian yang menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya di dalam materi. Seluruh fakta ilmiah ini menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh makhluk hidup diciptakan oleh ''Sang Pencipta'' yang memiliki kekuatan dan pengetahuan, yakni Allah. Sedangkan materialisme, seperti diungkapkan seorang filsuf terkenal abad ini, Arthur Koestler: "Tidak dapat lagi dinyatakan sebagai filsafat ilmiah". Pandangan di atas, dikemukakan dengan berani dan dibela dengan gigih oleh materialis abad ke-19, yang tentu saja tidak punya jalan lain kecuali bergantung kepada pengetahuan ilmiah zaman mereka, yang terbatas dan tidak canggih. Pendapat tersebut telah dibantah sepenuhnya dengan penemuan-penemuan sains abad ke-20. Yang gugur pertama kali adalah pendapat bahwa alam semesta sudah ada sejak waktu yang tak terbatas. Sejak tahun 1920-an, telah muncul bukti tegas bahwa pendapat ini tidak mungkin benar. Para ilmuwan saat ini merasa pasti bahwa jagat raya tercipta dari ketiadaan, sebagai hasil suatu ledakan besar yang tak terbayangkan, yang dikenal sebagai “Dentuman Besar (Big Bang)”. Dengan kata lain, alam semesta terbentuk, atau tepatnya, diciptakan oleh Allah. Abad ke-20 juga menyaksikan kehancuran klaim materialis yang kedua; bahwa segala sesuatu di jagat raya adalah hasil dari kebetulan dan bukan rancangan. Riset yang diadakan sejak tahun 1960-an dengan konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik alam semesta umumnya dan bumi khususnya dirancang dengan rumit untuk memungkinkan kehidupan. Ketika penelitian ini diperdalam, ditemukan bahwa setiap hukum fisika, kimia, dan biologi, setiap gaya-gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetik dan setiap detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta sudah diatur dengan tepat sehingga manusia dapat hidup. Ilmuwan masa kini menyebut desain luar biasa ini “prinsip antropis”. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap detail alam semesta telah dirancang dengan cermat untuk memungkinkan manusia hidup. Dengan demikian, filsafat yang disebut materialisme telah ditolak oleh sain modern. Dari posisinya sebagai pandangan ilmiah yang dominan pada abad ke-19, materialisme telah jatuh menjadi cerita fiksi pada abad ke-20. Ilmuan yang merumuskan teori Big Bang adalah Lemaitre (1927). Menurut Lemaitre, yang didasarkan atas persamaan-persamaan medan Einstein, harus pernah ada kondisi entropy minimum yang memungkinkan kondisi maksimum suatu materi untuk mengorganisir keadaan sistemnya. Ia juga menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan dan bahwa alam semesta mengembang sebagai akibat dari sesuatu yang telah memicunya. Dia juga menyatakan bahwa tingkat radiasi (rate of radiation) dapat digunakan sebagai ukuran akibat (aftermath) dari “sesuatu” itu. Pada tahun 1929, Edwin Hubble (astronomer Amerika di Observatorium Mount Wilson California), ketika mengamati sejumlah bintang dengan teleskop, menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spektrum dan pergeseran itu berkaitan langsung dengan jarak bintang-bintang dari bumi. Penemuan ini mengguncangkan landasan model alam semesta yang dipercaya saat itu. Menurut aturan fisika yang diketahui sebelumnya, spektrum berkas cahaya yang mendekati titik observasi cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas cahaya yang menjauhi titik observasi cenderung ke arah merah. Pengamatan Hubble, menunjukkan bahwa menurut hukum ini, benda-benda luar angkasa semakin menjauh dari bumi. Selanjutnya Hubble, membuat penemuan penting lagi; bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi; tetapi juga menjauhi satu sama lain. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa di alam semesta ini semua planet saling menjauh dan alam semesta dengan konstan “mengembang”. Hubble, menemukan bukti pengamatan untuk sesuatu yang telah “diprediksi” sebelumnya oleh Lamaitre dan sebelumnya pada tahun 1915, Albert Einstein, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak statis dengan perhitungan-perhitungan berdasarkan teori relativitas yang ditemukannya. Penemuan Hubble, bahwa alam semesta mengembang. Alasannya, jika alam semesta semakin besar sejalan dengan waktu, mundur ke masa lalu berarti alam semesta semakin kecil dan jika seseorang bisa mundur cukup jauh, segala sesuatunya akan mengerut dan bertemu pada satu titik. Kesimpulan yang harus diturunkan dari model ini adalah bahwa pada suatu saat, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai “volume nol” karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita muncul dari hasil ledakan massa yang mempunyai volume nol ini. Ledakan ini mendapat sebutan “Dentuman Besar”. Dapat dipahami bahwa 'Dentuman Besar' mengatakan bahwa sesuatu mempunyai volume nol adalah sama saja dengan mengatakan sesuatu itu “tidak ada”. Seluruh alam semesta diciptakan dari “ketidakadaan” ini. Dan lebih jauh, alam semesta mempunyai permulaan, berlawanan dengan pendapat materialisme, yang mengatakan bahwa alam semesta sudah ada selamanya (qadim). Alam yang dimaksudkan dalam pembahasan ini yaitu ''universum'', alam semesta, jagat raya. Dalam bahasa Arab disebut 'alam dan dalam bahasa Inggeris disebut universe. Dalam istilah Alquran disebut dengan langit serta seluruh isinya. Sebagaimana Alquran surat As-Sajadah ayat 4 berikut: الله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش ما لكم من دونه من ولي ولا شفيع أفلا تتذكرون. Artinya: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Kata langit disebutkan dalam bentuk tunggal as-Sama’ dan bentuk jamak as-Samawat, sebanyak 310 kali dengan rincian sebanyak 120 kali bentuk tunggal dan 190 kali bentuk jamak. Alam jagat raya ini disebut dengan as-Sama’ dan al-Ardh. Pengertian as-Sama’ menurut istilah yaitu: كل ما يعلو على غيره أو كل ما على ك, فسقف البيت يقال له سما. Artinya: Segala sesuatu yang di atas lainya atau apa yang di bagian atasmu, atap rumah disebut dengan langit. Sedangkan pengertian al-Ardh , yaitu: كل ما يقع أسفل غير السماء. Artinya: Segala sesuatu yang berada di bawah langit. Informasi yang dapat ditemukan dalam Alquran bahwa penciptaan alam semesta menggunakan kata; khalaqa, bada’a, fathara . Dalam penyebutan penciptaan tersebut tidak disebutkan tentang penciptaan secara terperinci dan tidak ditemukan informasi tentang dari apa langit dan bumi (alam semesta) diciptakan. Lain halnya dengan asal penciptaan manusia dan jin. Kata khalaqa ditemukan dalam Alquran sebanyak 261 kali yang terdapat dalam 75 surat, dari 261 kali penyebutan itu sebanyak 252 kali bermakna penciptaan dan 9 kali penyebutan lainnya dalam bentuk kata ikhtilaq (yang diada-adakan/dusta), khalaqa (keuntungan dan khuluq (akhlak). Makna dasar dari perkataan khalaqa adalah al-Taqdir, (menetapkan/ukuran/ketentuan yang pasti). Sebagaimana Alquran surat at-Thalaq ayat 12 berikut: الله الذي خلق سبع سماوات ومن الأرض مثلهن... Artinya: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Menurut al-Raghib, kata khalaqa jika digunakan untuk alam semesta berarti penciptaan sesuatu dari materi yang sudah ada, tidak ditemukan dalam Alquran. Dengan demikian Allah swt telah menetapkan dan menentukan penciptaan alam semesta tampa asal materi tertentu. Kata bada’a diartikan dengan penciptaan sesuatu yang baru sama sekali dan jika kata ini dipergunakan untuk penciptaan oleh Allah, berarti menciptakan sesuatu tampa materi awal, alat, waktu dan tempat. Kata bada’a ditemukan dalam Alquran sebanyak empat kali dengan derivasi (bada’a, ibtada’a, badi’u), dua ayat dalam lingkup pembicaraan langit dan bumi. Sebagaimana ditemukan dalam Alquran surat al-An'am ayat 101 berikut: بديع السماوات والأرض ... Artinya: Dia pencipta langit dan bumi. Dengan demikian Allah swt. Menciptakan alam semesta tampa contoh, sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya, tampa asal meteri, tampa alat dan tampa ruang dan waktu. Dalam tafsir Al-Mishbah, dijelaskan bahwa makna kata badi’u, dapat dipahami dalam dua hal, yaitu: Pertama; memulai sesuatu tampa ada contoh sebelumnya. Kedua; keterputusa sesuatu atau keterpunahan/ketumpulannya. Dari makna pertama lahir kata bid’atun yang merupakan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasul saw. Selain itu kata tersebut mengandung arti kekaguman, jadi jika sesuatu tidak disertai dengan kekaguman, maka tidak dinamakan badi’. . Dengan demikian, Allah sebagai pencipta langit dan bumi tanpa persamaan sesuatu dengannya, maka Allah swt. Menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, tampa ada contoh sebelumnya. Menciptakan pertama kali semua makhluk tampa ada makhluk serupa sebelumnya. Ayat di atas juga membantah keyakinan orang musyrik bahwa Allah swt. memiliki anak yang berwujud Malaikat dan Jin. Malaikat tempatnya di langit dan Jin tempatnya di bumi. Jika langit dan bumi diciptakan dari sesuatu yang tiada, maka keduanya baharu, sedangkan Malaikat dan Jin sebagai anak Tuhan haruslah qadim, sebab bagian dari Tuhan dan karena membutuhkan tempat tinggal di langit dan di bumi, maka akan menjadi baharu. Oleh karena itu, harus diyakini bahwa langit dan bumi adalah qadim , agar keyakinan adanya anak Tuhan tetap eksis. Kata fathara, makna dasarnya adalah al-Syakku (pecah belah), sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat al-Infithar ayat 1 berikut: إذا السماء انفطرت. Artinya: Apabila langit terbelah. Menurut Ibn 'Atsir, kata fathara dapat berarti penciptaan sejak dari pertama sekali. Senada dengan pendapat tersebut, Ibn Manzur, memberi makna dengan penciptaan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya dengan model dan bentuk yang memungkinnya dapat melakukan berbagai aktivitas. Dari penjelasan kata khalaqa, bada’a dan fathara, dapat dipahami bahwa ketiganya memiliki makna dasar yang sama yaitu penciptaan, namun terdapat perbedaan pada penekanan makna kandungannya. Kata khalaqa penekanannya pada penciptaan tampa materi, kata bada’a penekanannya pada penciptaan sesuatu yang sama sekali baru dan untuk yang pertama sekali, sedangkan kata fathara penekanannya pada penciptaan asfek pola/model dari awal penciptaan. Kajian kosmologi modern, jika dilihat dari sudut pandang Alquran, ditemukan adanya pemahaman yang singkron. Menurut kosmologi modern, bahwa alam semesta ini (universum) berasal dari satu materi yang padu, kemudian terjadi ledakan yang maha dahsyat (Big Bang) yang melemparkan berbagai materi keluar dari materi awal dan terciptalah alam semesta ini. Sebagaimana ungkapan berikut: Universum lahir dari suatu ledakan maha dahsyat yang berasal dari materi dalam keadaan super-padu dan super-panas, keterpaduan ruang dan materi dapat dipahami jika keduanya berada pada satu titik; singularitas fisis yang merupakan volume yang berisikan seluruh materi, sedangkan pemisahannya adalah terjadinya ledakan dahsyat yang melontarkan materi ke berbagai penjuru dan berkembang dengan cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi. Kejadian ini diperkirakan sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Sebelum ledakan yang maha dahsyah ini, tak ada energi, tak ada materi, tak ada ruang dan waktu. Pembahasan proses penciptaan alam semesta diawali dari Alquran surat al-Anbiya' ayat 30 berikut: أولم ير الذين كفروا أن السماوات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما وجعلنا من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون. Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?. Kata "ratq" diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah "fataqa" satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, dipahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk. Pada ayat di atas disebutkan bahwa langit dan bumi pada awalnya kanata ratqan, kemudian Allah memisahkan keduanya fafataqna huma. Makna ratq dan fatqn, menunjukkan adanya dua benda yakni langit dan bumi (satu langit dan satu bumi), karena pada masa itu masing-masing langit dan bumi adalah satu, kemudian Allah menjadikan dari masing masingnya tujuh, yakni tujuh langit dan tujuh bumi. Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan bumi pada masa itu masih padu kemudian langit pecah dengan turunnya hujan, demikian juga bumi menjadi pecah dengan tumbuhnya tanam ¬tanaman dari dalamnya. Keberadaan ekspansi ini diketahui berdasarkan penelitian sistematis dan pengamatan menggunakan teropong bintang, maka dapat dilihat dimana satu galaksi semakin menjauhi galaksi lainnya, semakin jauh jaraknya, kecepatamya semakin bertambah, seluruh universum berekspansi, seluruh galaksi bergerak saling menjauh dan pada jarak terjauh mendekati kecepatan cahaya. Dalam hal ekspansi ini Alquran menyebutnya dengan perluasan, sebagaimana Alquran surat Az-Zariyat ayat 47 berikut: والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون. Artinya: Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Menurut tim penyusun Tafsir Al-Muntakhab, sebagaimana dikemukakan dalam Tafsir Al-Mishbah, Kata al-Sama’(langit) pada ayat tersebut dimaksudkan dengan segala sesuatu yang ada di atas dan menaungi, maka semua benda langit seperti bintang, tata surya dan galaksi disebut langit. Ayat tersebut juga mengandung arti bahwa meluasnya alam semesta terus berlangsung sepanjang masa, sebagaimana dikenal dengan teori ekspansi (bahwa nebula di luar tempat tinggal manusia semakin menjauh dengan kecepatan yang berbeda, bahkan benda-benda langit dalam satu galaksi pun saling menjauh satu sama lainnya. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa alam semesta berasal dari satu materi yang padu dan perkembangan berikutnya adalah setelah terjadinya ledakan maha dahsyat yang diperkirakan pada masa 15 milyar tahun silam. Pada berbagai ayat dalam Alquran, ditemukan informasi bahwa penciptaan langit dan bumi dalam enam masa fi sittati ayyam, bumi diciptakan fi yaumaini. Untuk ayat yang menjelaskan fi sittati ayyam, dapat dilihat sebagaimana Alquran surat Hud ayat 7 berikut: وهو الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام .... Artinya: Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.... Hanafi Ahmad memahami makna ''hari'' dalam pengertian sehari-hari adalah masa mulai terbenamnya matahari sampai terbenam hari berikutnya, mencakup siang dengan malam. Kata yaum ini juga dipergunakan untuk menunjukkan waktu tertentu yang terkadang waktunya pendek dan terkadang panjang dan dapat pula diartikan dengan naubah (periode) serta al-waqa’ al-hawadits (penciptaan). Alam semesta diciptakan daam enam masa berdasarkan informasi dari Alquran surat Al-A`raf (7):54; Yunus (10):3; Hud (11):7; Al-Furqan (25):59; As-Sajdah (32):4; Qaf (50):38; dan Al-Hadid (57):4. Kata yaum (jamaknya ayyam) yang terdapat di dalam Alquran memiliki makna yang beragam; masa yang abadi dan tidak terhingga panjangnya (Al-Fatihah(1):4), atau 50.000 tahun (Al-Ma`arij(70):4), atau 1000 tahun (As-Sajdah (32):5), atau satu zaman (Ali Imran(3):140), atau satu hari (Al-Baqarah (2):184), atau sekejap mata (Al-Qamar (54):50), atau masa yang lebih singkat dari sekejap mata (An-Nahl (16):77), atau masa yang tidak terhingga singkatnya (Ar-Rahman(55):29). Oleh sebab itu, penyebutan fi sittati ayyam pada penciptaan alam semesta diterjemahkan “dalam enam periode”. Tentunya Allah swt. tidak memerinci periode tersebut secara detail. Alquran hanya memuat garis besarnya saja, sebab Alquran bukan buku fisika atau astronomi, melainkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Periodesasi penciptaan alam semesta yang ditunjukkan Alquran, terdapat dalam Alquran surat al-Fussilat ayat 9-12 sebagai berikut; قل أئنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين. وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين. ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين. فقضاهن سبع سماوات في يومين وأوحى في كل سماء أمرها وزينا السماء الدنيا بمصابيح وحفظا ذلك تقدير العزيز العليم . Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Karena penciptaan langit dan bumi secara bersamaan (ayat 11), maka dua periode penciptaan langit (ayat 12) identik dengan dua periode penciptaan bumi (ayat 9) dan dua periode penciptaan langit dan bumi itu berlangsung sesudah empat periode penciptaan rawasiya (ayat 10), sebab ayat 10 dan ayat 11 dihubungkan oleh kata tsumma (“kemudian, selanjutnya, sesudah itu”). Jadi, enam periode penciptaan alam semesta terdiri atas empat periode penciptaan rawasiya (peneguh) dan dua periode penciptaan materi (langit dan bumi). Kata rawasiya merupakan derivasi dari kata dasar rasaa (triliteral atau tiga huruf dasar ra-sin-alif) yang secara harfiah artinya “menambat, mengikat, meneguhkan”, dan satu akar kata dengan mirsa (jangkar) dan mursa (berlabuh, buang jangkar). Rawasiya berarti “penambat, pengikat, peneguh”. Untuk memahami arti rawasiya, dapat dilihat keterangan Allah swt. dalam Alqran: وجعلنا في الأرض رواسي أن تميد بهم وجعلنا فيها فجاجا سبلا لعلهم يهتدون . Artinya: Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Pada ayat lain Allah swt. berfirman: خلق السماوات بغير عمد ترونها وألقى في الأرض رواسي أن تميد بكم وبث فيها من كل دابة …. Artinya: Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Ketika berputar pada sumbunya sendiri (rotasi) dengan kecepatan 1667 km/jam, bumi beserta planet-planet lainnya berpusing mengelilingi matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam atau 30 km/detik. Matahari bersama-sama seluruh anggota tatasurya berpusing mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti (Milky Way) dengan kecepatan 225 km/detik. Galaksi Bimasakti itu sendiri (terdiri dari 100 miliar matahari) bersama galaksi-galaksi tetangganya berpusing mengelilingi pusat superkluster Virgo. Bumi berputar dengan kecepatan 300 km/detik terhadap pusat Superkluster. Dengan kecepatan yang fantastis ini, kenyataannya penduduk bumi berputar bersama bumi dengan aman sentosa, malahan seolah-olah tidak bergerak. Rawasiya (peneguh), dapat dianggap berfungsi mengikat pada permukaan bumi dan yang menjaga benda-benda langit yang “tanpa tiang” (ghairi `amadin) tetap pada orbit masing-masing. Jika ditujukan kepada dunia mikro, rawasiya yang membuat elektron-elektron tidak terlepas dari atom. Rawasiya yang mengikat proton dan netron dalam inti atom. Sehingga dengan rawasiya seluruh proses di alam semesta menjadi teratur. Para ilmuwan kini memahami bahwa semua proses yang berlangsung di alam semesta ini diatur dan diteguhkan dengan empat macam interaksi (gaya, force), yaitu: Pertama, interaksi gravitasi, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi. Kedua, interaksi elektromagnetik, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berfikir dalam otak manusia. Ketiga, Interaksi Kuat (Strong Interaction), yaitu gaya yang mengikat partikel-partikel (zarrah) proton dan netron yang menyusun inti atom. Keempat, interaksi lemah (weak interaction), yaitu gaya yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, mulai dari proses keradioaktifan (transmutasi inti) sampai kepada perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang sehingga tetap memancarkan cahaya. Dalam kebanyakan tafsir Alquran, kata rawasiya yang secara harfiah berarti “peneguh” sering ditafsirkan “gunung”. Memang benar bahwa salah satu fungsi gunung adalah peneguh, tetapi tidak semua kata rawasiya diterjemahkan “gunung”. Kenyataannya, orang-orang Arab tidak pernah menyebut gunung dengan istilah rawasiya. Rawasiya (peneguh) yang disediakan Allah swt. bagi alam semesta ini tiada lain adalah empat macam interaksi yang mengatur seluruh mekanisme langit dan bumi, yaitu gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya kuat, dan gaya lemah. Penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa keempat macam gaya tersebut merupakan manifestasi dari sebuah “gaya tunggal” yang sama, dan memisah satu sama lain melalui empat tahapan penciptaan. Kata aqwat (plural dari qut) pada ayat ini sering diterjemahkan “makanan”. Padahal arti yang tepat adalah “daya penjaga”, dan hal ini berhubungan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu al-muqit (Maha Penjaga), sebagaimana ayat Alquran berikut: من يشفع شفاعة حسنة يكن له نصيب منها ومن يشفع شفاعة سيئة يكن له كفل منها وكان الله على كل شيء مقيتا . Artinya: Barang siapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pengertian al-yaum dalam konsep penciptaan ini tidak relevan dengan makna hari pada saat sekarang, sebab ketika itu belum ada matahari dan bulan yang peredarannya dijadikan alat ukur atau perhitungan menentukan hari. Oleh sebab itu lebih tepat jika diartikan dengan periode, yakni masa enam periode, yaitu: 1. Era Planck, yakni kurun pertama terciptanya universum, pada masa ini seluruh kosmos yang terdiri dari ruang, materi dan radiasi telah ditentukan interaksinya, sifat serta fungsinya. Sedangkan kandungan materi dan energi dalam alam emesta ditentukan jumlahnya dan suhu kosmos karena ekspansi turun melewati 1000 triliyun derajat. Tepat pada Waktu Nol, dengan perintah Allah “Kun” (jadilah), maka terciptalah ruang dan waktu pun bermula melalui proses Big Bang. Dalam Alquran, Allah selalu memakai kalimat kun fa yakun (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk present tense atau fi`il mudhari`, dan tidak pernah dijumpai kalimat kun fa kana (‘jadilah’, maka dia menjadi) dalam bentuk past tense atau fi`il madhi. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan alam ini melalui suatu proses evolusi atau tahap yang berkesinambungan, bahkan sampai sekarang. Sebagaimana ayat Alquran berikut: الحمد لله فاطر السماوات والأرض جاعل الملائكة رسلا أولي أجنحة مثنى وثلاث ورباع يزيد في الخلق ما يشاء إن الله على كل شيء قدير. Artinya: Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Alam semesta masih berwujud energi dengan sebuah gaya tunggal. Berekspansinya alam semesta menyebabkan suhu menjadi turun. Berakhir pada saat 10(-43) detik sesudah waktu nol (alam semesta berdiameter 10(-30) meter dengan kerapatan 10(96) kg/liter dan suhu 10(32) K), yaitu ketika rawasiya gravitasi muncul sebagai gaya tersendiri. 2. Era Hadron, tahap ini berawal ketika suhu kosmos menjadi 100 milyar derajat, kerapatan materi dalam alam semesta adalah adalah empat juta ton tiap liter, bahan penyusun nuklir, yaitu penyusun inti-inti atom telah tertentu jumlahnya. Pada saat 10(-43) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(32) K), tatkala mulai terdapat dua gaya; gravitasi dan gabungan elektromagnetik-lemah-kuat. Oleh karena gravitasi bekerja terhadap sesuatu yang bermassa, maka sebagian energi mengalami transformasi menjadi partikel-partikel mikro (dukhan), sesuai dengan Hukum Einstein: E = m c(2). Quark dan lepton masih belum dapat dibedakan, sebab gaya kuat dan gaya lemah masih identik. 3. Era Lepton, tahap ini dimulai ketika suhu kosmos tinggal 1 milyar derajat dan kerapatan materinya tinggal 20 kg tiap liter dan muatan kelistrikannya telah ditetapkan. Dimulai pada saat 10(-35) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(28) K), tatkala rawasiya gaya kuat merupakan gaya tersendiri. Kini ada tiga gaya di alam semesta; gravitasi, gaya kuat, dan gabungan elektromagnetik-lemah. Alam semesta mengalami inflasi (volume mendadak berekspansi) dan mulailah dikenal partikel-partikel quark yang mengalami interaksi gaya kuat. 4. Era Radiasi, tahap ini dimulai ketika suhu kosmos berada di bawah 100 juta derajat, kerapatan materi tinggal 1/10 kg tiap liter. Pada tahap ini telah dimulai penyusunan inti-inti atom dan ada kemungkinan terjadi pengelompokan¬-pengelompokan materi sebagai akibat adanya ketidakseragaman lokal, yang nantinya berevolusi menjadi galaksi-galaksi. Dimulai pada saat 10(-10) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(15) K), tatkala rawasiya gaya lemah memisah dari rawasiya gaya elektromagnetik. Dan mulailah dikenal partikel-partikel lepton yang mengalami interaksi gaya lemah. Lengkaplah sudah empat macam gaya yang berfungsi sebagai rawasiya (peneguh) bagi semua proses di alam semesta. Alam semesta terus berekspansi sampai suhu “mendingin” hingga 10(13) K. Empat periode penciptaan rawasiya segera disusul oleh dua periode penciptaan atom, yang merupakan partikel dasar dari seluruh materi di langit dan di bumi. 5. Era Materi pertama, tahap ini dimulai ketika atom-atom mulai terbentuk, sehingga elektron bebas, sangat berkurang jumlahnya dalam kosmos, dalam tahap ini cahaya mengisi ruang alam (terjadi ketidakstabilan gravitasi). Dimulai pada saat 10(-6) detik sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(13) K), tatkala quark-quark mampu bergabung untuk membentuk hadron-hadron. Yang disebut “hadron” adalah partikel yang tersusun dari quark-quark. Ada dua jenis hadron, yaitu baryon (tersusun dari tiga butir quark) dan meson (tersusun dari dua butir quark). Kemudian baryon ada dua macam: nukleon (baryon penyusun inti atom) dan hiperon (baryon bukan penyusun inti atom). Lalu nukleon pun ada dua spesies, yaitu proton (tersusun dari dua quark u dan satu quark d) serta netron (tersusun dari satu quark u dan dua quark d). Hiperon-hiperon dan meson-meson merupakan partikel yang tidak stabil dan berumur sangat singkat (berubah menjadi partikel lain dalam waktu kurang dari 10(-7) detik), sehingga hanya ditemukan pada sinar kosmik atau dihasilkan oleh akselerator berenergi tinggi. Itulah sebabnya hadron yang berperan dalam pembentukan inti atom hanyalah nukleon-nukleon (proton dan netron). Dari enam jenis quark (u, d, s, c, b, t), quark u dan quark d merupakan penyusun proton dan netron. 6. Era keruntuhan protogalaksi, ketika kabut materi yang terdiri dari atom-atom mulai mengumpul dan membentuk bintang-bintang dan galaksi¬-galaksi, di antaranya terdapat matahari yang dikelilingi bumi dan planet-planet lain. Dalam peristiwa ini, materi dari protogalaksi (bintang) bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tampa ada gaya yang melawannya. Dimulai pada saat tiga menit sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(10) atau sepuluh miliar K), tatkala proton dan netron mampu bergabung untuk membentuk inti atom. Inti-inti atom yang terbentuk pertama kali adalah hidrogen-1 (satu proton), hidrogen-2 (satu proton dan satu netron), hidrogen-3 (satu proton dan dua netron), helium-3 (dua proton dan satu netron), serta helium-4 (dua proton dan dua netron). Inti-inti atom tersebut bermuatan positif sebab mengandung proton. Mereka siap untuk “menangkap” lepton yang bermuatan negatif dan yang stabil, yaitu elektron-elektron. Lepton-lepton yang lain “tidak memenuhi syarat”; muon dan tauon berumur pendek (paling lama 10(-5) detik), sedangkan netrino tidak bermuatan. Perioda ini berakhir pada saat 380.000 tahun sesudah waktu nol (suhu alam semesta 10(-4) atau sepuluh ribu K), tatkala inti atom mampu bergabung dengan elektron-elektron untuk membentuk atom hidrogen dan atom helium. Dengan demikian selesailah sudah tahap-tahap penciptaan alam semesta. Implikasi pendidikan dari pembahasan Big Bang dalam persfektif Alquran yaitu: 1. Penegasan pentingnya penanaman nilai-nilai keimanan pada Allah swt. 2. Alam semesta adalah ciptaan Allah swt. dengan sangat teratur, sehingga masing-masing dari planet yang diciptakan dalam enam masa tersebut, beredar sesuai dengan setting yang diperintahkan Allah swt., sehingga tidak terjadi benturan antara satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, segala aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan harus dilaksanakan secara teratur pula, agar tercipta kemaslahatan sesama manusia dan makhluk ciptaan Allah swt. Lainnya. 3. Manusia wajib mengimani bahwa Allah swt. maha kuasa atas segala sesuatu. Allah swt. kuasa menciptakan segala sesuatu, sebagaimana telah terjadinya penciptaan alam semesta dari sesuatu yang sebelumnya belum ada contohnya. 4. Penemuan ilmiah tentang teori penciptaan alam semesta dari sesuatu yang tiada dan menjadi ada, sekaligus membenarkan pemahaman bahwasanya alam semesta adalah baharu. PENUTUP Big Bang (dentuman besar) terjadi ketika seluruh materi kosmos ke luar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu sangat tinggi dari volume yang sangat kecil, alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrim. Sangat nyata bahwa semula alam semesta tiada. Pemisahan antara ruang dan materi, terjadi dalam suatu dentuman besar ke seluruh penjuru ruang alam yang berkembang dengan sangat cepat, sehingga tercipta universum yang berekspansi. Hal ini dijelaskan oleh Alquran dengan fafataqna huma (Kami pisahkan antara keduanya). Teori Big Bang menyebutkan bahwa penciptaan alam semesta melalui enam periode, jika dilihat dari sudut pandang Alquran, disebutkan dalam kata fi sittati ayyam (dalam enam masa). Dengan demikian, ada relevansi teori Big Bang tentang terciptanya alam semesta dengan ayat Alquran yang berimplikasikan penciptaan alam semesta. Alam diciptakan Allah dalam enam masa, dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Alquran. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Alquran, enam masa itu ditafsirkan dengan enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang), langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12 - 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Alquran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit. Masa kedua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Alquran disebut penyempurnaan langit. Di dalam Alquran, penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut. Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Alquran, big-bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak semakin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya”. Menurut analisis pakar astronomi, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam. Di dalam Alquran, memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air. Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa keenam dalam proses penciptaan alam. Proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut. Tersedianya air, oksigen, tumbuhan dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya. Di dalam Alquran, hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Allah memancarkan dari mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan manusia dan untuk binatang- binatang ternak”. DAFTAR BACAAN Achmad Baiquni, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: Dhana Bhakti Primayasa, 1997. Ahmad, Hanafi. Tafsir al-'Ilmiy li al-Ayat al-Kauniyyah fi Alquran. Mesir: Dar al-Ma'arif, t.t. 'Atsir, Ibn. Al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa'Atsar. Mesir: Dar al-Fikri, t.t. Baiquni, Achmad. Alquran, Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: PT. Dana Baku Prima Yasa, 1996. ------------., Alquran dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: Dana Bhakti Primayasa, 1997. Baqiy, Muhammad Fu'ad. Mu'jam al-Mufahras li al'faz Alquran al'Karim. Indonesia: Maktabah dahlan, t.t. Djay, A. Rahman. Alquran dalam Fokus Kosmologi Modern. Jakarta: Ulum Alquran, 1990. ------------. Majalah Ulumul Qur'an, no. 3. Tahun 1994. Hanafi, Ahmad. Tafsir al-'Ilmi li al-Ayat al-Kauniyyah. Mesir: Dar al-Ma'arif, t.t. Isfahani, Al-Raghib. Mu'jam Mufradat Alfazh Alquran, Tahqiq Nadim Mar'asyili. Beirut: Dar al-Fikr, 1972. Manzur, Ibn. Lisan al-'Arab. Mesir: Dar al-Mishriyyah, t.t. Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr ibn Farh. Al-Jami' al-Ahkam Alquran. Mesir: Dar wa Mutabi' al-Sa'ab, t.t. Ross. Hugh. The Creator and the Cosmos. Colorado Springs, CO: Nav-Press, 1993. Williams. George C. The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution. New York: Simon & Schuster, 1995. Yahya, Harun. Big Bang, Ledakan yang Menghancurkan Paham Materialisme, www.Google.com. 10 Februari.2008.

0 komentar:

Posting Komentar